Senja Muram

Senja Muram
Jagung


__ADS_3

“Wah ladang jagung misterius ini.“


“Memangnya….“


“Iyalah.“


“Ayo kita bakaran.“ Tiba-tiba timbul ide itu. Mereka tinggal membuka-buka saruny nya jagung itu untuk melihat isinya. Kalau sudah agak tuaan, akan dibuka dulu untuk lebih mengeringkan isinya. Dan lembab di dalam akan hilang bersama cahaya panas mentari yang sanggup menguapkan air dalam kandungan biji jagung yang sebelum nya terbalut kulit tebal jagung. Sehingga nanti akan memudahkan proses penjemuran biji jagung yang dipanen. Serta mudah memasukkannya ke karung jika ingin di simpan. Atau cukup untuk dimasak menjadi nasi jagung dan iwak peyek.

__ADS_1


“Meminta siapa?“


“Yang ada, petani.“


Mereka mencoba menemui petani penanam jagung itu. Orangnya tengah bersendirian. Dia sedang merawat jagung-jagung yang sangat banyak dan tumbuh di ketinggian. Bukan di sawah tadah air. Kalau di sawah, biasanya hanya di tanam dikala musim kemarau panjang. Sebab jagung tak banyak memerlukan air. Sedangkan di sawah selalu tergenang air. Itu kurang bagus untuk jagung. Walau tumbuh tapi hasilnya demikian saja. Berbeda dengan jika menanam di huma di atas bukit, yang airnya langsung lenyap kala hujan. Dan jika kemarau kering. Namun kalau kemarau mesti ada usaha membasahi nya selalu dengan menyirami. Asal ada asupan air buat minum tanaman saja. Bukan untuk membuatnya selalu basah seperti padi. Kalau padi kebalikannya. Meskipun bukan tumbuhan air, namun air sangat diperlukan untuk tumbuh dan supaya hasilnya maksimal.


Di dekat gubug tanpa pelindung sisi mereka mencoba membakarnya.

__ADS_1


Petani terus saja asik berkeliling lading sembari mengusir burung atau menyiangi rumput liar yang berebut makan dengan tanaman jagung.


Sangat terlihat jelas. Sebab tanaman itu bukan gandum yang bentukannya sama dengan ilalang. Ini jagung gede-gede jadi rumput begitu jelas terlihat. Walau subur dan dengan mudah langsung dipangkas pakai sabit tajam.


“Kan enak.“


“Hooh. “

__ADS_1


__ADS_2