Senja Muram

Senja Muram
Di batu


__ADS_3

“Nah disini.“ Kembali mereka berhenti. Menikmati pemandangan asik dalam tepian jalan tersebut. Dimana bukan hutan bukan juga tempat wisata. Namun sepi dan sangat menyerupai hutan. Dan pemandangannya demikian saja. Hanya duduk di pinggir jalan, pada sebuah tempat yang dibuat keras, pakai beton untuk menahan batu jalanan supaya tidak mudah longsor. Disitu jga sangat asik untuk melihat suasana. Di dekat sebuah jalan besar, namun di seberangnya tanah kosong luas yang tak merata.


“Asik nih.“


“Asik apa?“


“Ini…“ memang tak ada yang lebih menarik dari ini. Namun sudah merupakan sebuah pemandangan aami yang lumayan apik. Kalau tak ada yang sempurna, demikian saja sudah merupakan pemandangan mengasikkan. Didepan itu selain tumbuhan ladang juga tanah yang sedikit membukit. Dengan padi gogo yang dapat tumbuh pada sebuah lading kurang air. Dan bagi para petani mampu menyambung penghasilan disaat padi di sawah sulit tumbuh. Karena dengan diselingi demikian membuat waktu lowong tersebut bisa dimanfaatkan. Sehingga panen tetap ada. Walaupun tak sebanyak kala musim hujan datang.


“Nonton beginian?“


“Iya.“

__ADS_1


“Ya sudah disini aja dulu.“


“Baiklah.“


“Kita diam sejenak.“


Ada yang duduk membelakangi jalan dan hanya fokus pada arah perkebunan saja. Sementara yang lainnya duduk diantara jalan dan kebun. Sehingga bisa kesana kemari. Sembari memperhatikan kalau ada mobil lewat yang terus berjalan seirama waktu. Pokoknya tiap menit hampir, selalu ada yang melintas. Walau tak sama banyak.


“Yah hampir habis.“


“Wah…“ padahal sangat enak kalau menonton begituan, sembari duduk-duduk santai sembari menikmati sebuah masakan yang sangat nikmat itu. Walau hanya demikian saja, namun demikian menggugah selera. Barangkali karena tak ada lainnya. Kalau ada sih, atau misalkan di tempat wisata, barangkali dengan mencari makanan ikan panggang yang lezat, bakalan lebih menggugah selera. Disini jika ada singkong saja, dimakan mentah juga enak. Karena situasi. Namun yang ada Cuma kacang goreng garing itu juga dalam kemasan, yang Cuma sedikit namun lumayan mahal harganya. Mestinya untuk dimakan sebagai cemilan kala malam-malam dengan menonton olah raga, sehingga lumayan pengganjal kantuk. Juga sebagai pengenyang perut kala enggan memasak.

__ADS_1


“Ini tinggal kacang saja.“


Dikeluarkan kacang dalam kemasan. Kacang goreng. Dimakan sedikit demi sedikit. Dan kulitnya disebar begitu saja. Kalau di halaman umum lah di kasih plastik, dibuntel, baru ditaruh ke tempat sampah. Ini di hutan malahan Cuma di tebar, sehingga lama-lama menjadi pupuk alamiah, daripada kalau masuk ke plastik yang lama terurainya. Ini daerah sepi siapa lagi yang bakalan mengurai benda kuat kalau tak dibakar dahulu. Dan itu semakin lama prosesnya. Beda dengan benda yang bisa terurai, maka akan langsung membusuk, dan tumbuhan bisa menyerap hasil dari suatu kesuburan alami tadi. Tanpa pupuk, tanpa modal, sudah bisa tumbuh subur. Yang berarti panenan juga segera bisa di tuai.


“Minumnya?“


“Nggak ada.“


Yah hanya makan ngemil demikian saja. Tanpa minum sama sekali. Mau beli jauh. Mau metik kelapa taka da. Kalaupun ada tinggi-tinggi. Juga mesti bilang sama yang punya. Itu belum tentu diijinkan, karena sengaja dibiarkan supaya kelapa itu menua untuk kemudian dijadikan buah yang bisa menjadi santan atau dipakai buat minyak yang sekarang apa-apa serba sulit sehingga sangat mahal harganya.


“Seret nih.“

__ADS_1


“Ditahan, nanti kalau nemu kita bisa minum.“


__ADS_2