
“Eh, kita mampir sini,“ ujar Antony saat melintasi sebuah restoran mewah dengan menu bakar-bakaran.
“Sini? Mahal ini,“ kata Claudia.
“Tenang. Aku sudah di kasih uang sama bokap,“ kata Antony.
“O…. Ya ayo.“
Antony segera memarkir kendaraan di sisi timur rumah makan itu. Walau kebanyakan ada di sebelahnya.
Lalu mereka menuju ke meja duduk.
“Ini mbak menu nya,“ kata pelayan yang dengan ramah menunjukkan sebuah kertas lebar dan kaku karena di laminating biar tetap bersih.
Mereka berdua memilih-milih. Banyak menu. Tidak hanya ikan. Tapi bisa juga nasi goring atau makan jenis sop-sop an. Yang terang sesuai kantong yang akan membeli. Sebab kalau hanya itu, maka yang tengah tak beruang tak jadi makan, kan saying sudah mampir, makanya diberi beberapa alternatif untuk tetap makan walau dananya tipis. Tapi memang semua itu yang jadi favorit ikan bakarnya. Sehingga orang jauh-jauh dating ke situ hanya perlu itu.
“Sudah.“
Mereka menyerahkan kertas pesanan pada pelayan itu.
__ADS_1
“Tunggu ya.“
Lumayan lama mereka menunggu. Datangnya satu demi satu. Para pengunjung juga pada berdatangan. Ada yang sudah pesan dari kemarin. Sebab kalau tidak, maka meja sudah tak ada, sudah di pesan. Kecuali kalau datangnya agak malam sedikit. Sudah sepi. Paling hanya dua orang yang tengah bermain.
Lalapan datang duluan. Ada daun kemangi, timun yang dipotong serong. Rebusan welok. Juga lenca.
Dengan sambal tiga buah.
Berikutnya minuman. Claudia pesan es teh. Dan Antony, air putih.
Lalu nasi satu bakul penuh. Dengan piring hanya dua. Yang pesan dua doang.
Sedikit lama menunggunya. Karena banyak yang mengantri. Dan mereka giliran terakhir. Tentu saja di urut berdasarkan waktu memesannya. Karena semakin banyak yang pesan, juga akan memerlukan waktu. Tapi tidak semuanya membutuhkan waktu yang panjang. Terkadang kalau Cuma satu maka hanya sebentar saja. Bisa dibarengkan dengan beberapa pemesanan terdahulu. Sebab semua itu tidak mesti satu demi satu. Bisa langsung beberapa ekor. Apalagi jika kecil saja, maka tempatnya bisa menampung beberapa buah.
“Ini sudah jadi.“
“Wah mantap.“
“Kenapa kau hanya pesan nasi putih sama sambel?“ tanya Claudia keheranan melihat hanya makanan itu yang ada di depan Antony. Ditambah air kobokan. Jangan-jangan nanti kalau kehausan, itu juga di minum. Kan menjengkelkan.
__ADS_1
“Kan kau sudah pesan ikan. Besar lo itu,“ ujar Antony. Biasanya ikan itu lumayan kenyang kalau di makan. Habis yang ada besar-besar. Kalau pesan kecil, terkadang dagingnya kurang mantap. Walau bumbunya terkadang lebih meresap.
“Kalau tak punya uang bilang. Entar nggak bisa bayar di cukur plonthos lu. Gundul disini,“ terang Claudia yang khawatir juga jika Antony nanti hanya meninggalkan KTP ke penjual.
“Tenang saja, ada,“ kata Antony sembari menunjukkan dompet yang isinya uang kertas di untel-untel.
“Ya sudah.“
“Kan ikannya besar. Cukup in berdua.“
“Iya satu kilo. Sisanya entar lu bawa lagi.“
“Habis ini nanti. Orang berdua.“
Mereka makan dengan lahap. Terkadang kalau kelaparan, maka ikan segitu juga habis. Soalnya nasinya juga banyak. Sebakul penuh, kurang dikit. Jadi kalau di rumah cukup untuk sekeluarga. Tapi disini hanya dikasihkan pada yang memesan saja. Pada pemesan satu ikan. Barangkali saja ada yang perutnya muat banyak, maka pelayan tak silih berganti memberikan jika harus memberikan satu piring demi sepiring.
Lalu Antony membayarnya.
Kemudian pulang dengan kenyang. Tidak jadi di bungkus. Soalnya ikan besar itu habis di lalap berdua.
__ADS_1