
“Yuk jalan jalan lagi.“
“Makan makan….“
“Kita mau ujian ini.“
“Sebentar doang. “
“Ya kemana?“
“Ada wayang nih.“
“Wih Wayang… Anak muda itu.“
“Kan Cuma nonton saja. Nggak papa to?“
__ADS_1
“Ya.“
Mereka jalan. Lalu memarkir motor nya. Dan mendekati panggung.
“Ramai tuh.“
Nah nanti yang pertama muncul gunungan. Dimana mempunyai banyak makna.
Terbuat dari kulit. Penuh gambar. Gambar-gambar itu sederhana saja. Namun menjadi banyak makna saat bisa diuraikan. Semacam beberan suasana dalam kehidupan. Apa yang dibeberkan dalam lukisan itu, menjadi satu cerita kehidupan yang bakal tersaji dalam waktu semalaman. Sebab kalau tak diceritakan, semua itu hanya bentuk penggambaran yang indah namun belum memaknai suatu kehidupan. Layaknya sebuah gunung yang anggun di kejauhan, tapi kala didekati, mengandung banyak sesuatu yang sangat berlainan. Ada yang halus, ada yang kasar serta mengerikan. Itulah gambaran pandangan manusia.
Kepala kala yang menyeramkan. Akan selalu memburu. Kala itu waktu. Gambaran yang mengerikan akan sebuah waktu. Dimana terus memburu dan tak bisa diputar ulang. Sebab ada kalanya waktu itu benar-benar tak usah di hitung. Dan nanti pada sebuah pusaran di sekitar Lubang Hitam, taka da waktu lagi. Semua bergerak sangat cepat. Waktu itu karena bumi berputar. Sehingga membentuk rangkaian saat yang bisa dihitung. Namun pada masanya semua perputaran di alam semesta akan menyeret segalanya pada perputaran yang tak bisa disebut waktu. Disana hanya ada perkiraan seberapa lama saja semua mengelana di alam semesta yang super luas itu. Tak ada yang menghitung dan tak perlu di hitung, pada akhirnya semua hanya akan lenyap di makan atau termakan oleh sesuatu yang mengerikan tersebut.
Muka naga. Juga mengerikan di buat kanan kiri. Yang siap menyantap.
Dan gerbang selo menangkap. Mestinya batu. Sebab pada waktu dulu semuanya akan menjadi berat untuk melewati celah yang sempit itu. Dan mesti banyak pengorbanan guna memasukinya. Sebab pintu gerbang tersebut menandakan masuk atau keluarnya dari suatu paseban menuju ke sebuah ruang yang dinanti nanti guna bertemu dengan pemilik rumah. Karena tujuan masuk ke ruang utama memang untuk bisa menemui yang empu nya rumah.
__ADS_1
Dijaga dua raksasa. Yang mengerikan. Dimana dipilih yang memang berhak masuk atau tidak. Maka mesti menemui yang seram-seram begitu. Supaya kalau belum layak mesti di buat layak, dan jika tetap tak layak akan di tendang. Dan itu menjadi tugasnya. Sehingga siapapun yang akhirnya masuk mesti layak untuk menghadap.
Lalu…
Tancep kayon.
“Apa itu…“
“Tamat.“
Gunungan itu di tancapkan.
Kayon itu gunungan.
“Ya.. “
__ADS_1
Tapi sebenarnya dari kata kayu. Sebab penancapnya menggunakan kayu. Sebagai kayu akan ditancapkan menandai berakhirnya sebuah kisah semalam suntuk. Dimana kayu itu mengakhiri perjalanan laku yang mesti dipikirkan berikutnya, sebagai gambaran bahwa itu merupakan awal menuju pengharapan baru, dimana semalaman telah terjadi pertunjukan dalam menggunakan waktu luangnya sebagai pengisi saat istirahat. Dan esoknya mesti melakukan usaha seperti biasanya kembali.