
“Nggak usah mancing!“
“Ampun dah ah….“
“Sudah dibilang juga jangan ikut ke sini.”
“Kenapa rupanya?“
“Cewek sono agak jauh!“ pemancing itu marah melihat Claudia ikut saja sama si Antony.
“Orang ingin lihat,“ ujar Claudia cuek.
Asik saja dia duduk di dekat Antony yang sudah memegang pancing berikut umpan di mata kailnya. Sesekali lempar. Lalu ditarik. Dan mendiamkannya barang sejenak.
__ADS_1
Tak berapa lama tambang kail nya mulai bergerak-gerak. Nampak ada sesuatu yang menyentuhnya. Bukan arus kuat sungai, bukan juga tangan yang memegang pancing. Namun ada sesuatu di dalam sana yang mulai memakannya.
“Tarik-tarik!“ ujar Claudia bersemangat melihat mata pancing itu ada yang memakannya. Bisa jadi itu semacam buaya, atau ikan gabus yang dagingnya empuk, atau labi-labi lapar yang sudah bosan hidup. Dan apapun itu sudah bisa melegakan hati bagi para pencari nya jika benar-benar berhasil mendapat apa yang ada di balik ganasnya banjir musim ini. Jadi bukan sekedar luapan air yang menggerus segalanya serta membuat badan panas dingin, tapi mesti ada rejeki yang ditinggalkan diantara kepedihan ini. Sebab apa itu bencana, jika tak bisa dinikmati. Yang terasa Cuma kepedihan. Tapi bila sanggup mengatasinya, termasuk rasa sengsara yang diakibatkan nya, maka akan ada satu sisi baik yang berikutnya bisa dimanfaatkan buat situasi yang berbeda namun terasa nyaman untuk satu tujuan tertentu. Misalkan seperti kali ini, ada banjir, maka akan ada ikan yang naik untuk bisa dibagikan buat para pencari nya.
“Bentar dong, nunggu kumbul nya masuk,“ ujar Antony yang nampaknya sudah berpengalaman. Pada ujung tambang itu, di dekat mata kailnya, diberi semacam pemberat yang terbuat dari timbal, atau besi yang dibentuk sedemikian rupa, supaya mata kail itu bisa masuk ke dalam sungai, dan jika tak memakai pemberat tersebut, maka mata kail akan terseret oleh arus sungai yang deras. Apalagi kala itu tengah banjir besar. Namun, bila tak memakai semacam pelampung, pemberat tadi akan menjangkau dasar sungai, dan ikan-ikan enggan memakannya, selain sulit buat mulutnya menjangkau. Kecuali kalau pakai tangan. Dan tangan tak punya, hanya semacam sirip. Jelas kesulitan. Makanya pelampung tadi dipergunakan untuk menahan mata kail agar tetap melayang didalam air.
“Ayo ceper-cepet!“ teriak Claudia. Belum juga sempat di Tarik, benang pancing itu sudah tenang kembali. Pertanda sudah tak ada yang memakan umpan.
“Yah lepas dah,“ ujar Antony kecewa. “Elu sih teriak-teriak.“
“Makanya diam!“
“Ini diam.“
__ADS_1
Keduanya Pun saling mendiamkan. Seperti rumah tangga yang tengah bersitegang. Tak ada kata tak ada suara. Yang ada hanya kebisuan dan aliran air yang bergemerincik lirih.
“Itu dimakan lagi!“ teriak Claudia yang enggan menghadapi kebisuan suasana.
“Kan berisik lagi!“
“Orang dimakan.“
“Diam!“
Berikutnya keduanya asik memperhatikan ujung tambang yang begitu-begitu saja. Umpan, tarik, habis umpan, lalu dilempar lagi. Dan begitu seterusnya sampai keduanya benar-benar jenuh menghadapi situasi yang ruwet ini.
“Pulang!“
__ADS_1
“Yuk pulang, sudah sore juga.“
Banjir mulai surut dan lumayan banyak ikan yang di dapat nya. Empat biji. Besar-besar. Sekepalan tangan.