Senja Muram

Senja Muram
Kaka


__ADS_3

“Ya sudah,“ kata Pretoria dengan senyum dinginnya tetap terkembang, untuk satu hal yang dia tak kira sebelumnya. Semuanya sudah mengetahui kini. Akan semakin mengerikan bagi rasa yang bakal dia terima. Makanya keputusan akhir sudah dia siapkan. Keputusan yang mestinya pahit. Demi satu kegagalan. Dan resiko dari kata gagal itu terkadang demikian pedih.


“Lo ambil senjata....“


Semua nya yang ada disitu terkejut kala melihat si wanita sudah menggenggam senjata yang ia simpan. Senjata yang sangat mengerikan. Meskipun tak nampak demikian. Tapi akhirnya akan membuat begitu kalau sudah dilepaskan. Makanya banyak yang melarang penggunaannya. Hanya untuk orang-orang khusus.

__ADS_1


Dia menembak dengan cepat. Seiring jemarinya menekan pelatuk kecil.


Satu peluru itu terus menderu. Membuat semua orang yang ada disitu ketakutan. Kalau-kalau peluru terebut akan ditembakkan oleh Pretoria pada salah satu yang ada.


Setelah mengenai dua sudut di depan lalu menabrak sudut lain, dua kali di belakang agak ke samping, akhirnya berhenti. Kena diri sendiri. Pistolnya jatuh terlempar. Begitulah, setelah memantul dari sudut dinding yang dilapisi dengan keramik halus dan kuat menahan ujung peluru hingga memantul. Jadi ada empat pantulan. Sekali di sudut depannya, dan dua kali berikutnya memantul pada bagian belakangnya.

__ADS_1


Itu teriak mereka melihat si Pretoria terkulai lemas dengan luka yang masih segar nampak di kepalanya. Dia masih terduduk di kursi kesayangannya itu. Dengan posisi tubuh miring ke kanannya. Dan bersandar. Lunglai.


“Dia sudah memperkirakan,“ kata Antony yang juga menyadari kalau semua dilakukan sebagai rencana B jika kejadian awal yang dibuatnya tak berhasil. Meski bukan penembak jitu, tapi dia hafal tempat ini, membuat dia tak salah arah. Sehingga ujung peluru mengarah tepat pada kepalanya sendiri. Mengindikasikan, kalau dia sebenarnya bukan pembunuh, atau setidaknya dia tak ingin melakukan perbuatan itu. Hanya keadaan yang menjadikannya demikian. Keadaan akan cinta mereka yang membuat gelap mata. Dimana semua terbelenggu untuk langkah berikutnya. Dan berharap akan suatu penyatuan yang melegakan. Meskipun ujung-ujungnya mesti terjadi bencana yang justru membawa kerugian bagi banyak pihak. Tak terkecuali bagi si pembuat sendiri. Dan akhirnya seperti ini. Dia melukai diri sendiri dan enggan melakukannya pada orang lain. Mungkin yang sudah terjadi biar sebelum itu yang merasakan kepedihannya. Bukan untuk menambah korban lagi. Dan semuanya yang masih ada biar berjalan dengan sendirinya. Tanpa perlu memperdulikannya lagi.


“Ya begitulah. Dia mengambil resiko yang mengerikan untuk cintanya, yang memang terlalu sulit untuk diraih, kala mesti melanggar norma dan aturan. Mungkin dia tak menyarankan bagi kita untuk mengikutinya. Namun juga tak akan ada gunanya kalau dia bicara mengenai kebaikan yang mesti diambil andai tak mengikuti dirinya. Karena dia sendiri telah mengambil langkah demikian jauh ke dalam. Hanya dengan akhir yang mengerikan demikian, kita mesti seribu kali kalau mesti menuruti apa yang dia lakukan. Yang terkadang mesti melupakan apa yang sudah dipunyai, tentang semua kebanggaannya, bahkan untuk yang paling dikasihinya. Semua bakalan sirna andai telah terjerumus untuk mengambil langkah yang kurang tepat ini.“

__ADS_1


Semua hanya terdiam. Dan memandang pada sesuatu yang mulai membeku. Disini. Didepannya kini.


“Bagaimana lagi. Semua sudah terjadi, dan kini tinggal kenangan. Menurut semua yang nampak didepan kita ini dengan pandangan yang sewajarnya.“


__ADS_2