Senja Muram

Senja Muram
Kaset


__ADS_3

“Koleksi piringan hitam.“


“Kaset kali.“


“CD.“


“Celana?“


“Karset.“


“Malah korset. “

__ADS_1


Begitulah seiring dengan bertambah dan berkembangnya jaman, maka berbagai teknologi penyimpanan data terus juga semakin banyak. Ada flashdisk, ada juga eksternal. Yang semuanya itu mampu menyimpan data lebih banyak serta lebih praktis jika dibanding dengan apa yang disebut piringan hitam. Karena piringan hitam selain mahal dengan bahan yang sulit, juga besar dengan lokasi penyimpanan yang sedikit. Untuk itulah kemudian di rubah dalam pita kaset yang lebih kecil. Dan alat pemutarnya juga lebih simpel. Barulah muncul berbagai CD maupun disket. Yang bentukannya lebih mirip dengan piringan hitam, namun benda pembentuk serta peralatannya lebih murah.


“Yang mahal kan pemutarnya.“


“Gramaphone kali.“


“Mahal tuh.“ Karena besar jadi mahal. Dan untuk era itu benda demikian tergolong mewah. Sebab alat lain belum ada. Setelah ada tape, baru benda mahal itu pelan-pelan kurang diminati masyarakat. Diganti dengan tape yang bentuknya beraneka warna. Ada besar, ada juga kecil. Bahkan yang lumayan baru di gabung pakai CD juga Flashdisk. Namun yang terbaru terkadang hanya speaker aktif saja berikut memori sebagai penyimpan data untuk selanjutnya bisa di dengar dengan lebih praktis, dengan rasa yang sama saja.


“Ada juga di loakan.“


“Karena itu kita koleksi.“

__ADS_1


“Lagunya lama-lama. Evergreen.“


“Ada grup musik kuno.“ Begitulah sampai akhirnya music rekaman tersebut biayanya juga mahal akibat memasukkan ke piringan tadi akan sedikit sulit. Tapi mudah kala memutar lagu di suatu tempat dansa. Dimana bisa di pindah dengan cepat oleh ahlinya. Lain dengan kaset yang kesulitan mencapai titik yang dimaksud. Atau bahkan flashdisk. Dengan hanya menandai dengan benda khusus, maka ujung pemutar itu bisa langsung di putar ke tempat tersebut. Karena mahal itu maka grup tak banyak. Juga lumayan lama membuatnya. Sulit untuk di tambal sulam. Satu kali jalan mesti selesai, karena jika berhenti di tengah jalan, akan membuang alat yang saying dengan nominal yang tak sedikit itu. Juga lagu yang ada masih sedikit. Beda dengan sekarang, karena lagu era piringan itu masih bisa di dengar, maka semakin banyak saja dengan dicampur lagu-lagu baru yang bisa saja langsung lenyap. Kalau tak disukai.


“Yang jelas kita pajang di dinding juga bagus. Walau mati.“ Dan akhirnya tertempel alat itu di dinding dengan bentuk yang unik. Sehingga akan bisa dijadikan karya seni yang lumayan berharga. Daripada disimpan dan hanya berupa tumpukan. Maka dengan dipajang tersebut menjadi lebih nampak dari waktu ke waktunya. Untuk kemudian dipamerkan sama orang yang datang. Sebagai kenangan bahwa pernah mempunyai benda mahal yang sangat popular di jamannya. Atau justru dibiarkan saja juga bagus karena pada sampul maupun bagian atas dari piringan tersebut terkadang sudah di temple gambar bagus supaya di saatnya ada nilai jualnya.


“Tengahnya di kasih jam dinding tuh. “


“Hus ya sayang.“


Padahal juga bagus hanya membeli mesin jam dinding, lalu di tempatkan pada tengah-tengah itu sehingga akan memutar sesuai jam yang tengah berjalan. Apalagi kalau menentukan itu dikasih tanda. Baik itu nomor jam, atau sekedar garis. Itu jika tak saying dengan benda alasnya yang dari piringan hitam yang saat membeli dahulu merupakan benda lumayan mahal dan modern.

__ADS_1


__ADS_2