Senja Muram

Senja Muram
Untuk Senja


__ADS_3

Ujar Ant di senja itu. "Nah kita beli martabak disini saja. Ini langganan Nenek Senja. Jadi, kemungkinan dia akan senang jika kita sudah dapat nanti.“


“Baiklah.“


Sudah ada antrian beberapa orang. Bahkan sudah ada yang pulang dengan membawa bungkusan berisi martabak itu.


Ada salah satu pembeli.


“Bang beli.“


“Apa?“


“Martabak.“


“Apa?“


“Martabak manis, sama asin.“

__ADS_1


“Tak ada,” ujar penjual nya. “Disini adanya martabak terang bulan sama martabak telor. Lanjut! “


Ada yang membeli lagi. Sampai dua orang sebelum sampai pada Antony. Lumayan ramai memang. Bahkan terkadang baru beberapa jam saja sudah habis makanan yang membawanya tak banyak, atau sama seperti sebelumnya, tetapi yang membeli banyak, dalam pembuatan yang sekali buat membutuhkan telur yang jumlahnya tak sedikit. Makanya bisa langsung habis. Lain andai dirasa bakalan laku, terutama kala menghadapi hari-hari besar yang juga liburan sekolah. Maka dimungkinkan kebutuhan meningkat. Dan daya beli masyarakat juga tidak sedikit. Untuk itu sebagai persiapan terkadang segalanya ditambah. Baik modal, bahan-bahan pembuat, sampai pada tenaga juga mesti di maksimalkan. Ini demi keuntungan yang sesekali saja, tak mesti lancer setiap hari. Maka jika hari biasa, dengan porsi dagangan yang sama dengan kala hari besar, itu, tentu tingkat laku pun mesti beda. Dan itu menjadi pemikiran tersendiri.


“Beli apa? “


“Ini dulu,“ ujar Antony pada si pembeli yang tak di layani, akibat taka da yang dipesan tadi. Bahkan menunggunya lama, sampai kepalanya di taruh di kaca dagangan tersebut.


“Ya sudah, itu saja,“ ujar si pembeli pada dagangan yang ada.


Segera dibuatkan pesanan sesuai penjualnya. Mesti antri. Sebab makanan demikian akan enak dimakan selagi hangat dan baru dibuat. Kalau sudah dingin, tak. Bahkan cenderung layu. Meskipun makanan sudah dihangatkan kembali, maka akan beda. Selain rasanya kurang, juga cenderung lebih keras, akibat pemanasan untuk yang kedua kali nya. Itulah makanya mereka lebih suka mengantri ber jam-jam demi sesuatu yang sangat nikmat itu.


“Dari mana sih?“


“Transmigran.“


“Jauh kah?“

__ADS_1


“Iya. “


“Baru pulang?“


“Iya.“


“Sukses kah?“


“Apaan... Disana, tugas kita itu hanya membuka ladang. Terus menanami berbagai tanaman. Eh setelah mau panen kita diusir sama kelompok mengerikan itu.“ Seperti biasa para pekerja itu memang di datangkan dari daerah padat, yang kebetulan sesuai dengan pendidikannya, atau yang tida berpendidikan namun mau, serta mempunyai keterampilan yang dibutuhkan oleh berbagai perusahaan tersebut. Istilahnya hanya modal tenaga saja. Yang kuat dan tak berpenyakit. Maka berangkatlah dari daerah padat, yang kebanyakan orang-orang jawa. Sebab sebagai pemerataan, di daerah tersebut sangat banyak, sementara di hutan luar pulau itu demikian jarang. Sehingga banyak hutan yang tak tersentuh.


“Wah.“ Yang mendengar hanya berkedut saja mengurai kejadian aneh itu. Memang untuk daerah konflik tak mudah melakukan kegiatan yang demikian sulit. Mau dikerjakan, hasilnya bagaimana, tidak dikerjakan sayang. Karena beresiko pada jiwa raga mereka. Kalau tidak sampai cedera, mungkin psikologis nya yang kena. Hal yang lumrah, wajar untuk satu tempat yang nuansanya begitu.


“Ini sudah jadi,“ ujar si penjual martabak seraya memberikan martabak dagangan nya itu pada sang pembeli.


“Iya.“ Si orang yang baru pulang itu segera mendapatkan apa yang sebagai pesanannya tadi. Lalu diapun pulang.


Dan Antony pulang setelah apa yang dipesannya juga telah jadi, dia pergi sembari membawa pesanan Nenek Senja.

__ADS_1


__ADS_2