
Enak ya!
Enak ya!
Mereka makan durian. Lalu menuju ke minum. Es degan. Satu dibagi dua dengan bonus dua sedotan. Tadinya harga sedotan mau dihitung tapi karena kebaikan penjualnya akhirnya tidak juga. Alias di gratiskan.
__ADS_1
“Enak ya, enak ya…“
“Hooh.“
Setelah habis satu degan itu.
__ADS_1
“Habis sudah.“
“Beli lagi.“
“Tapi tak habis, kenyang.“ Kalau dua jam mungkin bisa. Tapi jika sudah kenyang begitu seakan enggan untuk mengisi lagi. Tapi bila itu dilakukan beberapa waktu berikutnya bisa jadi masih bisa. Karena perut juga sudah mulai berkurang. Beda dengan sekarang yang kesulitan untuk mengisinya lagi.
__ADS_1
“Bisa di plastik minum sambil jalan.“ Ingin praktisnya saja. Meskipun plastik sekarang juga banyak jenisnya. Bisa tuh yang model cup atau yang versi jadul. Dimana kebiasaan kalau sejak dulu di plastik hanya di bungkus demikian saja, maka sudah bisa di bawa ke mana-mana. Baru berikutnya pakai sedotan. Dirasa lebih sehat dan lebih nyaman. Hanya praktisnya memang kalau Cuma di bungkus, demikian saja, lalu ujungnya di gigit. Dengan gelas model selanjutnya. Dimana murah meriah, tapi sudah bisa lebih sopan. Dan itu terasa mengikuti perkembangan jaman. Dimana bisa menikmati suatu minuman sudah menggunakan gelas, karena sopan serta rapi. Seperti dalam pertemuan-pertemuan itu, biasanya air botol akan disandingkan dengan gelas bersih, supaya kala minum akan menggunakan gelas dulu sehingga kesannya lebih bagus. Tentunya beda dengan anak-anak yang tengah main, atau lagi belajar. Mendingan pakai plastik. Bisa sambal jalan. Atau dibawa lari-lari. Tidak tumpah, serta mudah menghabiskannya. Belum lagi jika mesti buru-buru maka akan semakin kesulitan andai cuma menggunakan semua yang serba ribet itu. Dan memerlukan waktu yang tak sedikit, jadi bakalan tercurah waktu yang penting itu hanya untuk hal demikian saja.
Namun akhirnya nggak jadi beli. Takut nggak habis. Mendingan beli nanti saja kalau sudah haus lagi. Sekarang kan es demikian sudah banyak. Di kota maupun di hutan. Sebab sudah banyak yang ngedrop buah yang sangat banyak itu. Dengan begitu banyaknya ketersediaan buah yang dilihat dari pertumbuhan pohonnya yang demikian banyak, maka hal demikian justru membuat semakin cepatnya habis yang bisa dibilang laris manisnya produk tersebut. Dengan berikutnya bisa mengadakan lagi. Jadi tak sampai kehabisan.