Senja Muram

Senja Muram
Main main


__ADS_3

“Mana si Antony!”


“Ant... Lu dicari lagi,“ ujar temannya datang. Yang mengganggu kala mereka tengah asik berman catur pada satu tempat yang lumayan terlindung. Jadi kalau dari kantor masih ada jeda waktu sampai mereka datang. Jadi selain menghindar dari berbagai pandangan utama, juga bisa lebih fokus berpikir bagaimana melangkah tiap jalan kotak yang berbeda warna tersebut agar bisa mengalahkan lawan lebih efektif pada beberapa lanjutan langkah berikut yang bisa mencapai hasil maksimal pada penentuan di akhirnya.


“Bentar dong mau makan nih.“

__ADS_1


“Makan mulu kerjaan kau.“


“Tanggung nih.“


“Kena kau nanti,“ temannya khawatir.

__ADS_1


“Pak KDL mencari kau itu! Si Scopio sedang di tanya-tanya. Kayaknya bukan masalah itu sih sekarang. Mari kita dengar apa yang si item itu ucapkan.“ Mereka menajamkan pendengaran. Agar jelas apa yang tengah dituduhkan pada si Antony itu. Jadi berikutnya mesti berbuat apa. Mau kabur keluar tembok sekolah juga sia-sia. Mana tiap sudut sekolah sudah dijaga. Dimana tempat-tempat tersebut sudah ada bangunan huni yang ditempati oleh karyawan sekolah tersebut. Dan itu bisa menjadi pengamatan buat anak-anak bengal yang hendak melakukan tindak tak baiknya demi melanggar satu aturan sekolah masalah kedisiplinan serta persoalan lain yang tak boleh dilanggar.


“Aduh sialan,“ ujar Antony semakin khawatir. Mereka mendekat agar lebih jelas apa yang dikatakan temannya yang suka main-main itu. Terkadang bicara sekenanya. Apa yang dia sendiri lakukan lalu ditimpakan sama temannya. Sebab tak akan ada hukuman yang mengerikan bakal dijatuhkan sama murid sendiri. Paling paling di bentak-bentak, atau Cuma dikasih poin sampai batas maksimal. Dan jika sudah lewat pun mesti dikasih tenggang. Sebab tak akan serta merta mereka menjatuhkan sanksi maksimal. Bagaimanapun, mereka juga masih murid. Masih satu keluarga besar pada satu almamater tersebut.


“Disana Pak!“ jelas Scopio sembari menunjuk ke arah mereka tengah bermain catur. “Dia yang membuang buku dari jendela, mencoret-coret pakai tinta merah, menggambar botol di bawah meja. Merobek buku, meminjamkan teman buku orang. Bahkan menumpuk kursi seara sembarangan di kelas sampai menyentuh langit-langit ruang.“ Terus saja dia berkisah pada sesuatu yang terjadi dalam sekolah mereka. Dan segala-gala ditimpakan pada satu sosok yang demikian disukai gurunya tersebut. Mereka paling bakalan mengira kalau orang yang di suka itu Cuma mendapat hukuman ringan. Dibanding dengan anak-anak yang melakukan sesungguhnya namun tak ada kemampuan apapun. Dan berikutnya langsung akan mendapat banyak pengurangan poin. Atau malah akan langsung dikeluarkan bukan hanya dari dalam kelas, tapi langsung dari sekolah bahkan sampai jauh ke dekat sungai yang tengah dibangun tangganya itu.

__ADS_1


“Wah wah wah... semakin seram aja itu orang main lapor. Mesti sembunyi nih. Mana dia masih nunjuk-nunjuk kemari lagi.“ Antony bertambah panik. “Gawat...“ Bagaimanapun ringannya satu hukuman, kalau hal itu menimpa, tentu akan menjadi satu catatan khusus bagi para pendidik langkah selanjutnya apa yang hendak di kenakan berikutnya.


“Mampus lu bang. Ketahuan,“ ujar Kleo di belakang Antony yang khawatir di balik satu tempat tersembunyi. Dia cekikikan. Melihat temannya demikian panik.


__ADS_2