Senja Muram

Senja Muram
Satu pencarian


__ADS_3

“Yo cepat!“


“Sebentar dong. Ini nyiapin perbekalan,“ ujar Claudia. Dia merasa kalau mau pergi-pergi begitu mesti lengkap segala sesuatunya. Baik ransel yang isinya 60 liter, belum lagi alas duduk yang bisa ditekuk-tekuk. Pokoknya segala sesuatunya mesti terpikirkan agar bisa melakukan perjalanan yang menentukan ini dengan suasana yang nyaman dengan hasil yang sempurna juga. Tidak asal serampangan.


“Apa lagi?“


“Banyak ini.“

__ADS_1


Yang kali ini terkejut justru si Antony yang tak menduga kalau rekannya ini memikirkan segala sesuatu secara detail sehingga apa-apa yang tak begitu bermanfaat akan dibawa sehingga nanti justru bakalan menimbulkan masalah di akhirnya. Yang capek lah. Terlampau lemah untuk menuju jarak yang panjang. Atau beban memberat di punggung. Sebab hal ini bukan hanya untuk melalui jalanan sunyi dan akhirnya memandang sebuah pemandangan alami yang indah. Namun sebuah tugas khusus yang hanya untuk membantu seseorang yang tengah berduka. Kalau berhasil dalam keadaan yang sehat tentu semua suka. Namun sebaliknya kalau didapatkan sebuah hasil yang jauh dari harapan, tentu banyak perasaan yang akan ditimbulkannya nanti. Itu yang berikutnya akan menjadi titik permasalahan.


“Ini mau camping, apa mau manjat gunung sih. Banyak amat.“


“Ya banyak lah. Ada tenda. Ada altimeter. Ada tongkat gunung. Termasuk sambal gunung.“


“E siapa tahu guna.“

__ADS_1


“Mereknya saja terkenal, ember.“


Si Claudia tetap ngotot ingin membawa semua itu. Walau akhirnya tak jadi. Katanya terlampau repot. Makanya dia sedikit sewot. Mau membawa demikian saja tak boleh. Bagaimana nanti kalau kelaparan di jalan, seperti yang sudah-sudah. Katanya Cuma mau sehari, nyatanya sampai beberapa malam belum jua kembali. Akibat kasus yang sangat rumit. Juga barangkali pada saat sekarang. Hal yang belum tentu bisa rampung dalam tempo singkat. Makanya mesti dipikirkan jauh-jauh sebelumnya. Sehingga nanti bisa menyelesaikan segalanya tanpa terlampau menderita. Sebab segala sesuatu yang cukup rumit demikian perlu pengorbanan. Dan itu tak hanya terjadi sekali dua kali. Bisa jadi kali ini juga demikian. Makanya semua ini sudah menjadi pemikiran buat si Claudia yang tak hendak terlampau repot nantinya.


Mereka naik perahu persis seperti saat wisata mancing dulu itu. Dengan menyusuri sungai-sungai yang berkelok, sebelum akhirnya menyeberangi sebuah lautan yang luas. Namun pulau itu masih Nampak dari hutan di penghujung sungai yang bisa dilalui oleh kapal mereka. Ke sanalah mereka kini akan menuju dan sebelumnya rekan-rekan mereka yang telah lebih dulu menjangkau alamat gelap tersebut hanya untuk satu tujuan tak jelasnya. Dan itu menjadi pemikiran di kemudian waktu hingga tak kembali nya mereka pada waktu yang sudah diperkirakan. Hingga membuat keluarga cemas dan mesti mengutus beberapa orang gua mencarinya.


Hanya kali ini menuju ke desa terakhir sebelum masuk hutan. Desa itu merupakan pemukiman terakhir sebelum masuk ke perbatasannya. Daerah terlarang. Yang tak banyak dilalui orang. Meskipun beberapa penduduk banyak yang nekad masuk ke sana. Walau bahayanya tak bisa diramalkan. Karena hutan terlindung itu dibiarkan liar. Termasuk dilepaskannya berbagai tanaman khusus yang hanya bisa hidup di daerah ini. Serta binatang-binatang khas yang menjadi kebanggaan hutan tersebut. Jadi tak bisa di katakana aman untuk orang-orang yang masuk ke daerah tersebut. Dan hanya penduduk sekitar yang bisa masuk. Itu karena liku-liku hutan sudah di hafalkan betul.

__ADS_1


__ADS_2