
“Yuk jalan lagi,“ ujar Claudia.
“Kemana?“ tanya Antony.
“Kemana, nonton kayu kek,“ ujar Claudia.
“Kita ini mau ngebantuin si Kleo jualan kue,“ ujar Antony dengan rencananya.
“Ditempat itu lagi di tepi jalan?“
“Iya.“
“Yuk….“
__ADS_1
Segera mereka bergegas. Dengan menaiki kendaraan roda dua yang baru di keluarkan sama pemiliknya. Untuk menuju lokasi kerja yang lumayan daripada menganggur.
“Nah itu.“
Nampak pada suatu kejauhan, dimana itu tempat kemarin mereka melakukan aktifitas. Sudah terlihat si Kleo tengah menata dagangannya yang sebagian di turunkan dari mobil box milik pembuatnya.
“Yang kue… yang kue….“
Langsung saja dia menawarkan dagangan itu.
Kemudian langsung saja dia membantu apa yang dikerjakan si Kleo.
Claudia ikut saja.
__ADS_1
“Yang manis ada nggak?“ tanya seseorang yang dihentikan perjalanannya.
“Ada. Tapi manisan penjualnya…“ ujar Kleo.
“Dasar garangan!“
“Orang nawar nggak boleh,“ kata pengendara tersebut sembari membeli satu paket saja.
“Ayo ayo… 25 jadi sepuluh aja,“ teriak mereka terus menawarkan dagangannya.
“Yang keju,“ ucap seseorang sembari memberikan uang belanjanya. Memang ada beberapa varian rasa. Demi membuat tidak jenuh nya para pembeli yang jika hanya dibuat satu bentukan saja. Meskipun rasa yang utama sudah sangat nikmat, tapi lidah orang, namanya, tentu membuat mereka merasa ada titik kejenuhan, terhadap rasa itu. Dan untuk menyikapinya, mereka membuat rasa-rasa lain yang menjadikannya tak bosan. Meskipun terkadang ada rasa pahit, atau terlampau asin, itu tentu akan menjadi rasa yang lain dari hal biasa yang ter nikmati. Dan apa yang dibutuhkan tubuh seakan sudah sesuai dengan varian rasa yang tersaji itu sesuai dengan makanan yang ada.
“Nggak usah kembalian.“
__ADS_1
“Uang ceban, pas ini,“ kata Kleo.
Mereka terus saja asik melakukan kegiatan demikian. Selagi jalanan ramai. Banyak yang tak mau dihentikan. Seakan makanan demikian sudah biasa mereka makan. Apalagi di kota yang jelas-jelas asli pabrikan dengan harga yang mahal. Sebab proses yang rumit dan bahan yang juga perlu pengadaannya serta berbagai pungutan lain yang mesti dibebankan pada konsumen. Jadi makanan tepi jalan itu seakan tiada arti. Dan rasa barang murah terkadang tetap berbeda dengan yang mahal. Ini mengenai rasa lo. Sebab rasa terkadang bisa membuat berbeda. Bagi orang yang tak biasa makan, hal demikian sudah terasa sangat nikmat. Berbeda dengan yang sudah hafal, maka makanan yang sangat nikmat pun akan ketahuan rasa indahnya walau hanya dengan mencium aroma nya saja. Kecuali bila kena virus. Makanya lebih baik sehat daripada tak bisa mencium. Tapi itulah, sebuah kenikmatan jika mampu membeli barang yang murah tapi di rasa juga tak mengecewakan. Akan semakin puas rasanya. Dan anak-anak itu mencoba berbuat demikian. Menjual kue yang nikmat tanpa perlu membuat si pembeli mengeluh. Misalkan beli di pasar dengan harga yang segitu tap rasanya kenyal dan alot. Apalagi keras. Yang bisa untuk menimpuk orang sampai menjerit-jerit. Bahkan besok atau lusa, akan dibuat tulisan besar-besar mengenai diskon dimana 25 jadi 10 tentu akan menambah penasaran bagi para pelintas jalan tersebut. Sehingga meskipun pejalan jauh mesti ingin berhenti sejenak, demi melihat apa yang dijajakan itu. Sehingga tentu dikemudian nya bisa menambah nilai laku bagi apa yang dijajakan tersebut.