
“Nah itu apaan?“ Mereka menatap aneh pada sosok di depan mereka. Seseorang yang tengah mendorong-dorong gerobak bayi. Sementara banyak yang lain di sekitarnya.
“Hihi. Masa gitu lelaki sejati.“ Jauh dari kesan seperti itu. Tak ada Kasper kencang, tanpa lengan kuat juga kaki yang perkasa sehingga kalau menendang orang, akan berjajar hingga menempel tembok. Ini demikian saja. Bahkan menginjak orong-orong juga tak bergeming. Sungguh sangat jauh dari kesan lelaki perkasa yang menjadi idaman para awewe. Yang kebanyakan tentu akan memilih yang ganteng, yang kuat yang pilih tanding. Sebab untuk memperbaiki genting juga bisa, memacul di sawah sangat mudah, atau untuk melawan sepuluh perampok akan mudah di lakukan. Lah kalau begini, anak-anak sendiri saja nggak bakalan takut. Di bentak paling juga Cuma kencing di celana. Tak akan berpengaruh apa-apa. Beda dengan si kuat yang tanpa perlu menggertak, langsung main kepal sudah pada kabur semua dengan celana basah akibat kencing. Tapi itulah kenyataannya. Tak semua laki-laki sama. Ada yang beda. Ada yang terlampau perkasa namun menyakiti. Dan ada yang demikian semampai tapi penakut. Yang kesemuanya mempunyai kelebihan diantara banyak kekurangannya. Dan kekurangan diantara banyak kelebihannya. Semua akan bisa saling mengisi dan mengimbangi jika dapat dilihat dimana kelebihan itu untuk menutupi kekurangan yang lain, sehingga nantinya bakalan sanggup bergerak bersama.
“iya. banyak anak banyak rejeki.“
“Masa angon anak.“
__ADS_1
Tak bisa terpikirkan bagaimana seseorang yang tengah sedikit berbeda dengan kodratnya. Karena kebanyakan mereka-mereka ini merupakan pekerjaan seorang wanita. Bukan lelaki sejati.
“Tapi dia sendiri.” Ini yang aneh, ternyata di balik suatu keanehan tersebut, memang tersembunyi sebuah kehidupan yang lebih aneh lagi. Dimana jaman sekarang wanita yang banyak di butuhkan, karena kebutuhan tenaga kerja seperti itu memang lagi banyak-banyaknya. Beda dengan lelaki. Hampir ruah tangga orang berduit itu tak memerlukannya. Mereka hanya mesti bekerja kasar yang bisa menghasilkan uang namun tak seberapa. Besar pasak dari pada tiang. Dimana tak akan mampu memenuhi kebutuhan keluarga kecil nya.
“Lalu.“
“TKW dari Hongkong.“
__ADS_1
“Jadi apa-apa sendiri. Baik cangkul, sampai ganti popok anak sendiri. Belum menyapu, masak-masak sendiri, cuci baju sendiri, ya karena taka da yang lain. Mau bayar orang mahal. Sementara istri di bayar juga untuk membantu hal demikian. Masa pembantu membayar yang membantu. Kan aneh. Makanya si suami yang setia tetap di rumah dengan segala pekerjaan di tangani sendiri. Sementara biarkan yang disana itu mencari uang sedikit di tempat jauh berada. Sedikit di sana tapi kalau di bawa ke sini, desa tepi hutan larangan, maka akan banyak juga. Sehingga rumah-rumah yang dahulu riot, dengan papan bolong-bolong telah berubah menjadi gedung ber keramik yang sudah ada listrik serta sinyal telepon. Sehingga untuk akses kemana-mana mudah.”
“Banyak ya kerjaannya.“
“Ya lah. “
Itulah. Lelaki sejati tak memandang apa pekerjaannya. Semakin berat pekerjaannya dianggap suatu hal yang istimewa. Karena memang pekerjaan kebanyakan hanya itu. Maka itu yang bisa di raih. Beda dengan yang mengeluarkan sedikit tenaga dan memerlukan otak tak banyak kesempatan. Walau terkadang apa yang dihasilkan lebih berlimpah. Dan itu sama-sama cukup memenuhi kebutuhan primer satu keluarga. Jadi lelaki sejati adalah mereka yang sanggup memenuhi kebutuhan keluarga tanpa ada yang disakiti dan menyakiti. Sebab akan bisa dinikmati dengan penuh perasaan.
__ADS_1