
Si Pretoria Karlina kakaknya De La Cruz dimana rumah nya tadi itu, sudah tak di rumah. Katanya dia juga mau ke situ. Mau menemui mereka kalau segala sesuatu yang terjadi akan dijelaskan disitu.
“Ya sudah kita tanyai saja mereka.“
Mereka mendekati rumah tersebut, untuk ikut nimbrung kalau-kalau mereka tengah duduk saling bertamu satu dan lain.
“Kau kemana?“
Terlihat si Cruz lagi agak mundur-mundur untuk meninggalkan daerah tersebut. Makanya dia pamit. Seakan ada perlu lain yang akan dia kerjakan.
“Aku pulang dulu.“
“Nah sini.“
__ADS_1
Mereka disuruh duduk pada suatu ruangan yang sangat nyaman untuk mereka duduki dengan sangat jelas dan asik. Mereka kemudian duduk pada suatu ruang tamu yang sedikit terbuka dan tampak dari kejauhan.
Ini suami si Trajan Partisi.
Istri yang mati itu, si Aurely Partisi.
Dia mati di kamarnya dimana hanya ada suami yang terikat di ranjang dan ikut terkena peluru .
“Ya sudah, duduk dulu.“
Dan kakaknya Cruz yang kemungkinan akan jadi bakal calon istri itu duduk berdampingan dengan Trajan. Mereka nampak mesra sekali. Juga serasi. Karena masih dalam masa yang layak untuk membina rumah tangga. Hanya saja kondisi keluarga itu yang membuat seakan ada penghalang diantara mereka. Tidak selayaknya untuk merebut atau memisahkan satu keluarga utuh. Ini yang membuat kondisi demikian nampak aneh. Dan dijauhi banyak orang.
“Sini.“
__ADS_1
“Heeh.“
“Kita ingin lihat lokasinya,“ ujar si Antony setelah melakukan komunikasi basa - basi sebelumnya agar terasa lebih akrab. Kini akan melihat kamar yang membuat istri nya terbunuh. Masa dalam kamar bisa mati. Kalau bukan pembunuhan akan sulit. Atau bisa cuma kecelakaan. Bila ada suatu gas beracun yang sanggup membunuhnya jadi tak perlu ada apa-apa dari luar yang melukainya. Jika ini yang terjadi tentu tak akan ada luka. Ada luka itu juga bisa berarti dari jatuhnya alat yang melukai tersebut akibat gravitasi yang lumayan kuat untuk membuat suatu benda meluncur dengan kecepatan tinggi dan melenting untuk melukai seseorang dan kecepatan itu juga bisa menembuskan benda pada kulit yang rapuh.
Atau datang dari luar akibat demikian mudah mengikat seseorang yang ada di dalam untuk dicederai. Apalagi daerah tersebut sepi. Tentunya sangat mudah membuat seseorang dibelenggu untuk diam dan tak berani berkata apa-apa lagi. Dan membiarkan segala yang ada disekitarnya berada dalam cengkeraman si jahat. Dan itulah akhirnya yang membuat satu nyawa lenyap. Sementara yang lain luka.
Dengan pemikiran sederhana demikian, maka sebentar saja akan terungkap siapa sebenarnya sang pembunuh. Dan tak perlu berlama-lama mereka harus tinggal di tempat sunyi, mencekam dan penuh dengan suasana mengerikan. Sebab banyak kisah tentang daerah itu yang dirasa aneh serta berbau mistis.
“Kita minum lagi,“ ujar si Trajan yang tuan rumah menawari hidangan buat tamu mereka yang sudah menjadi kebiasaan ala kampung. Jamuan minum memang bukan hanya milik kampung. Bahkan ada di luar daerah tersebut, jika minum tersebut suatu upacara sakral. Tapi disini hanya sekedar jamuan sebagai pererat persaudaraan antar tetangga, atau antar kekasih, dan juga antar teman. Dimana kondisi demikian semakin mempererat kekerabatan.
Dor!
“Ih.“
__ADS_1
Mereka terkejut.
Belum sempat mereka menghabiskan semua makanan di meja sudah saja ada suara main tembak tembakan yang mengerikan.