
“Kan enggak seram,“ ujar Si Antony dalam perjalanan pulangnya. Keduanya merasa lega telah menyelesaikan misi berat yang tuntas dijalankan. Makanya kembali dengan ceria. Untuk berikutnya menghadapi persoalan lain yang kemungkinan lebih berat dan sangat menantang.
“Iya, enggak seram, tapi tetap saja seram,“ kata Claudia.
“Gimana sih enggak seram tapi seram,“ kata Antony keheranan dengan jawaban temannya itu yang seakan aneh.
__ADS_1
“Ya seram orang menghadapi yang dituduh dan belum tentu langsung mau menerima kalau dia beralasan bahkan mengamuk kan seram juga,“ jelas Claudia. Memang terkadang mereka yang berbuat akan mati-matian menghindari tuduhan. Sebab sudah tahu resikonya. Serta kebanyakan orang yang berbuat tak benar itu juga berakhlak tak benar juga. Makanya kecenderungan meluapkan emosi bakalan sangat tinggi. Untuk berikutnya melakukan hal yang sekehendak hati demi memenangkan sebuah kasus yang sebenarnya dia sendiri yang paham. Maka dia akan mengamuk supaya semua takut sehingga menghentikan satu peristiwa yang dia buat. Kalau orang biasa yang hanya bertampang seram, mungkin dia akan membawa salah satu senjata mengerikan namun membahayakan dalam jarak yang tak seberapa luas. Tapi jika yang berbuat justru orang misterius dengan persenjataan yang demikian canggih, maka cakupan jarak resiko nya juga tinggi dan kemungkinan adanya korban lain juga semakin luas.
“Ya sudah resiko mencampuri urusan orang ya terkadang ada halangan nya,“ kata Antony. Tidak jarang para detektif bakalan kena batu sandungan jika yang diteliti adalah kasus pelik dan melibatkan orang yang sangat kuat dalam dunia tersebut. Hingga tak jarang pula para peneliti tersebut justru menjadi korban dari sesuatu yang tengah ditelitinya dan belum sempat terkuak.
“Makanya itu senang kalau bisa membantu menguak kasus tapi sedih kalau mesti menghadapi kendala bahkan kalau keliru analisis maka orang yang tak bersalah jadi kena.“
__ADS_1
“Iya….“
Mereka terus melaju diatas kendaraan antik nya itu.
“Oke… Berhubung sudah selesai dan tak mengerikan, bagaimana kalau kita singgah di warung tengah hutan dan membeli mendoan lebar serta es degan yang sangat menyegarkan itu. Ini satu solusi terbaik lo ini,“ ujar si Claudia memberi satu solusi yang tak ada pilihan lain.
__ADS_1
“Baiklah kita mampir,“ kata Antony yang dengan segera membelokkan kendaraannya ke sebuah warung di tengah hutan pada perjalanan pulang mereka. Disitu warung-warung tersebut hanya buka siang hari saja. Dikala mentari sudah menampakkan diri hingga menjelang tenggelamnya. Sebab kalau malam hari akan demikian gelap serta resiko terjadinya kejahatan bakalan sulit tertanggulangi. Saat pagi hari mereka membawa dagangannya lalu didasarkan pada warung bambu tersebut. Dan sorenya dibawa pulang lagi. Demikian seterusnya. Karena mereka tak boleh membuat rumah permanen. Selain sulit di bongkar jika satu ketika ada pembangunan, baik pelebaran jalan, maupun untuk penanaman hutan kembali, juga kemungkinan bisa beralih tangan. Kalau sudah terlanjur dibuat permanen, akan sulit membongkarnya. Juga untuk menunggu akan mendapat ganti rugi, jelas kesulitan demi kesudahan nya. Untuk berikutnya akan terjadi satu pertengkaran demi mendapatkan hal yang paling benar. Dan dirasa tak membuat rugi.
“Nah demikian kan nyaman. “