Senja Muram

Senja Muram
Nonton 14


__ADS_3

“Yuh berangkat.“


“Kemana lagi kita?“ tanya Claudia yang sudah siap.


“Nonton dong.“


“Nonton terus.“


“Iyalah hehe…“


“Waduh nggak bosen?“


“Enggak.“


Maklum masih ramai dan sangat ramai, untuk waktu-waktu demikian. Banyak orang-orang jauh yang tengah pulang. Mereka pada berkumpul. Sehingga ingin menyaksikan hiburan. Baik itu ke tempat wisata atau pada rumah kampung yang tengah syukuran sehingga menanggap hiburan. Atau juga pihak pemilik kesenian daerah itu yang sengaja menghibur mereka agar ada kenangan saat di kampung untuk di bawa ke kota.

__ADS_1


“Cuma kali ini kita nonton ebeg,“ terang Antony.


“Wih Serem.“


“Kenapa?“


“Kesurupan.“


“Iya, kan nggak bahaya.“


“Ya enggak lah kan hanya hiburan,“ terang Antony yang sampai sejauh ini memang taka da orang yang sampai cedera karena perbuatan si mahluk tersebut. Apalagi memakan korban. Paling-paling hanya anak-anak yang menjerit jerit ketakutan karena dikejar orang kesurupan, sampai terguling-guling di selokan, atau benjol menabrak tiang.


“Yuk. “


Mereka jalan. Melewati jalan rusak.

__ADS_1


Lewat persawahan yang luas membentang. Dan para petani dengan ucapan penuh syukur pada yang kuasa lalu menanggap tontonan itu sebagai upaya menghibur diri, sekaligus sebagai bentuk harapan agar selanjutnya juga hasil panen bisa melimpah lagi.


Tikungan kanan kiri. Inilah asyiknya sebuah tikungan. Terkadang jalan tak harus lurus. Sebab mesti melihat kanan kiri juga. Dimana sisi kanan itu sebuah kebenaran, dan kiri bukan yang salah. Disitu tetap ada jalan. Maka mesti dilewati agar sampai ke tujuan yang di tuju.


Akhirnya sampai di lokasi. Pada sebuah tanah lapang.


“Wah dah main.“


“Ramai yah?“


“Iya.“


Disitu pada sebuah tanah lapang, nampak kerumunan masa yang tengah menonton pertunjukan. Sebuah kesenian daerah yang mereka anggap asli, karena belum di klaim orang lain serta belum terdaftar di organisasi dunia. Dan hanya ada di situ. Walau kalau ada di luar daerah, biasanya mereka juga yang main karena ada tanggapan kalau tidak pindah domisili.


Banyak yang tengah menari. Setidaknya ada sepuluh orang. Yang membentuk semacam pasangan. Dengan pakaian ala-ala kerajaan. Penari biasanya ada yang memakai baju, atau tidak. Untuk kali ini semuanya tak berbaju. Hanya menggunakan aksesoris lengkap layaknya prajurit kerajaan kuno di era-era jawa timuran. Walau di lain kesempatan ada juga yang mengenakan baju seragam dengan rompi juga, dan bagian bawah yang berbentuk semacam kain sepanjang satu lutut agar saat melangkah atau menempatkan kuda kepang itu tepat bisa masuk. Kalau sampai bawah tentu akan kesulitan. Dan di dalam kain itu masih mengenakan celana warna hitam juga sepanjang bawah lutut. Jika tanpa pakaian, maka mereka tetap memakai kelat bahu, gelang, juga gelang kaki yang di kasih kerincingan, supaya ada suara bergemericing saat mereka bergerak.

__ADS_1


__ADS_2