Senja Muram

Senja Muram
Jualan


__ADS_3

Nggak tahu kenapa hari itu si Kleo jualannya uring-uringan. Masa berdagang marah-marah, tentu saja yang mau beli pada minder dan kemungkian tak laku akan sangat besar serta merugikan pada perusahaan apa yang dia jadikan tempat bekerja. Habis begitu marah-marah terus. Tiap orang yang dating dibentak. Tiap mau membeli dikerjain. Ya lama-lama enggan. Belum lagi kalau orang yang dating sangat tak disukai setengah gembel.


“Kak beli,“ ada orang yang datang dan hendak membeli. Nampak lusuh keadaannya sepertinya jarang mandi. Apalagi mandi kembang, sangat jarang dia. Makanya hampir-hampir tak dilayani bahkan tak dihargai sama sekali sama penjual yang terkenal cantik namun judes itu.


“Apa! Nggak ada!“


Hah!


“Nggak ada dibilang juga. Lu yang sering ngutang kan. Yang nggak bawa duit sama sekali. Kalaupun ada lu minta sama orang sembari mengemis kan? Paham gua!”


“Itu ada…“ tunjuknya pada barang yang dimaksud dan ternyata berada ditempat tersebut.


“Nih uang nya, nggak usah kembalian nggak papa,” ujar anak itu sembari senyum senang. Dapat apa yang diinginkannya.


“Nih sono cepetan!“ ujar Kleo.

__ADS_1


Anak itu ngeloyor setelah dikasih.


Belum juga sempat duduk sambal main FF di HP mewahnya, sudah itu datang pembeli lain dengan sorot mata yang menyeramkan.


“Beli apa!“ tanya si Kleo.


Orang itu menyebut apa yang diinginkan. Sudah itu banyak banget lagi. Kalau roti maka varian nya yang aneh aneh. Dengan toping yang tak masuk akal juga. Kalau benda maka akan dicari yang harganya mahal tapi diskonnya gede. Tentu saja akan mencari kesulitan segala sesuatu yang mesti dilaksanakan saat itu juga. Sebab kalau tak langsung dilayani maka akan menumpuk antriannya yang mengular oleh para pembeli yang antusiasme itu.


“Nggak ada!“


“Nggak dijual. Dasar pengemis. Sudah itu jelek mata bulukan dan kuping congekan. Kung caplang congekan, jago pasar dari seberang!“


“Nggak mau pergi gua, kalau nggak dikasih!“ kata anak itu ngotot.


“Terserah!“

__ADS_1


“O… bikin kemah disini gua! Sampai kapanpun akan gua tunggu.“ Ancamnya seakan layaknya pacar yang hendak diputus sama pacar pacar nya.


Orang itu langsung pasang tenda di tanah lapang dekat dengan si Kleo berjualan. Sudah demikian bibirnya ngoceh ke sana kemari tiada henti. Setiap orang datang langsung diberitai. Setiap yang kenal langsung saja mengadu. Supaya si penjual mau memberi apa yang dipesannya.


Karena mangkel akhirnya di kasih sama si Kleo. Barulah orang itu mau beranjak pergi sembari menggulung kemahnya.


Tak disangka antrian begitu bejibun. Entah kenapa. Mungkin pada mangkel sama penjual itu kayaknya. Cantik - cantik tapi serigala yang judes sama jutek. Jadi mereka sengaja mengantri berpanjang-panjang hanya demi membuat mangkel si penjual. Sehingga sampai warung hendak tutup tapi tak jadi jua demi para pengunjung yang demikian berjubel itu.


“Sudah tutup!“


“Tuh masih banyak yang ngantri.“


“Kalian semua nyebelin ya! Dasar anak kadal! Jangkrik , kucing buduk, kikir ekor tikus. Minyak tawon!“


Terus saja si penjual mengumpat-umpat. Tapi dasar para pembeli yang setengahnya para pendemo itu tetap saja merangsek maju. Bahkan kalau didepan membawa barang akan ditiup biar minggir. Atau rambutnya dijambak biar si orang itu menyisir rambut yang acak-acakan itu terlebih dahulu. Sehingga bakalan digeser sama yang belakangnya. Sembari joged-joged. Sampai keinginannya terlaksana dengan sukses.

__ADS_1


Malamnya langsung tertidur pulas. Setelah semua dikunci dan ditata sesuai dengan tempat semula dan kondisi ruang yang bersih berkilauan. Itu karena kecapekan.


__ADS_2