Senja Muram

Senja Muram
Kembali Banjir


__ADS_3

“Bagaimana?“


“Yuk lihat banjir.“

__ADS_1


“Lagi banjir dilihat.” Banjir kan meang bisa dilihat. Karena tak setiap hari demikian. Ini menjadi tontonan tersendiri. Selain juga ada sebuah kesenangan dimana banjir itu membuat orang bisa saling tolong menolong. Kalau tak bisa berenang bisa naik perahu. Dan kalau membawa kendaraan bisa tuh membantu menuntun hingga selepas banjir. Itu kemudian menjadi rejeki tambahan kalau si pemilik mempunyai uang lebih untuk membantu menolongnya.


“Lumayan main air.“ malah lebih asik lagi. Bila anak-anak akan bermain di jalan yang tergenang air. Disitu air menggenang saja. Yang tak dalam. Juga tidak terlampau cepat lajunya. Namun masih banyak air. Jika surut sungguh mengerikan kelihatannya. Kini kala tertutup air hanya semacam bagian datar saja dari sebuah penglihatan. Sejauh mata memandang hanya hamparan air saja yang begitu luas membentang. Menutupi apa yang ada. Baik jalanan, bebatuan, tanggul sungai hingga padi-padi di sawah. Semua tinggal air. Jika sudah kering, baru terlihat bentuk aslinya yang tak karuan. Sawah lading porak-poranda. Demikian juga jalanan semakin kacau. Aspal mengelupas. Batu-batu terseret. Serta tanah yang justru menutupinya menjadi sebuah benda licin yang sanggup mempelantingkan kendaraan. Itu belum seberapa. Kalau ada kendaraan membawa beban berat maka akan semakin merusak jalan yang sebelumnya keras, namun tergenang air menjadi melunak, kemudian terinjak benda berat, maka akan menjadi sedikit gembur hingga bagian terkeras titik itu yang sanggup menahan roda. Itu yang kemudian menjadi bagian bawah dari apa yang bisa diinjak roda roda suatu kendaraan berat.

__ADS_1


“Kok tidak hujan tidak mendung, banjir.“


“Wah mengerikan ya?“

__ADS_1


“Kalau tak siap bisa bencana ini.“


“Bisa katut ikut aliran air.“

__ADS_1


__ADS_2