
“Ini buat nenek seneng.“
“Apa itu, martabak?“
“Apem.“
__ADS_1
“Yah begituan.“
“Mana tahu suka.“
Segera Si Claudia membelikan apem itu. Makanan khas. Jajanan pasar. Yang tak seberapa mahal. Dan mudah didapat. Serta bahan-bahan pembentuknyapun tak sulit. Berlimpah. Itulah yang membuatnya demikian mudah untuk bisa dimanfaatkan sebagai makanan rakyat yang murah. Tentunya jika dibandingkan dengan makanan lain. Apalagi yang bentukan modern. Walau semua itu terbuat dari bahan yang sama. Akan tetapi hanya dengan memasukkan sedikit farina akan menjadi sebuah bentukan makanan yang bernama beda. Itu kalau dijual pada sebuah tempat yang apik, maka akan semakin mahal harganya. Dan membuatnya juga akan bertambah tinggi nilai jualnya. Dengan demikian tempat yang keren akan menambah nilai nya juga. Tidak demikian dengan apa yang kali ini ada dihadapannya itu. Tempatnya sederhana. Bahan dan bentukannya demikian saja. Dan pembelinya juga sewajarnya. Itu yang membuat kesan murah. Asal laku. Walau demikian penjualnya sudah merasa senang. Ada yang enggemari buatannya. Sehingga dapur masih bisa ngebul. Juga masih bisa membeli keperluan penting lainnya yang sangat dibutuhkan dari makanan sederhana ini.
__ADS_1
Claudia lalu membawanya. Menjinjing dalam sebuah tas kresek hitam. Tas remeh yang mulai ditinggalkan. Akibat tak adanya solusi guna mengurainya menjadi bahan lebih bermanfaat. Jika sedikit mungkin masih bisa diatasi. Namun limbah yang menumpuk dalam berat yang melebihi keinginan, tentu akan membuat satu masalah tersendiri yang berikutnya bakal mengganggu lingkungan akan sirkulasinya. Makanya sebisa mungkin akan dikurangi. Tidak untuk dihilangkan sama sekali. Sebab bagaimanapun hal demikian juga masih ada manfaatnya. Misalkan beli buku tiga tanpa memakai bahan yang sejauh ini begitu dimanfaatkan. Maka hanya akan menambah kesulitan dalam membawanya. Belum lagi jka tercecer, akan semakin sulit melacaknya. Dan keinginan mempergunakan benda yang begitu diinginkan tadi akan sirna, terbuang oleh angannya sendiri. Hanya karena masalah sepele. Juga oleh orang yang benar-benar memerlukannya akan sangat bermanfaat. Bisa dip[ergunakan sebagai penutup kepala dikala hujan, sementara tak punya jas hujan atau sekedar jas plastic murah hanya sebagai pelindung sementara demi terhilangnya rasa pusing akibat tetes hujan di bulan-bulan sulit ini. Hanya dengan demikian terkadang sudah bisa sedikit menghindari rasa yang menyesak itu. Belum lagi kalau tak membawa bekal, maka hal remeh itu bisa dipakai dengan sedikit fungsinya sebagai tempat itu. Karena biasanya apa yang dipunyai dengan sangat ramah lingkungan, tapi terlupa untuk membawanya, maka hanya akan membuang percuma satu keinginan yang sebetulnya masih bisa diatasi. Hal inilah yang membuat benda tak berharga itu demikian penting akhirnya. Walau tempo yang dipergunakan juga tak lama. Dan berikutnya jika bisa melenyapkannya dalam satu tindakan benar, akan semakin bermanfaat.
Itu yang kemudian diharapkan. Siapa tahu makanan jadul demikian masih suka. Sebab biasanya dia membelikan yang sedikit umum. Kali ini apa adanya. Dan berharap nenek tak menolak. Maklum jajanan pasar. Yang lumayan murah. Jika dibandingkan dengan kue-kue dalam toko yang khusus akan hal tersebut, serta terpajang pada tempat yang mewah. Menjadikannya makanan khas yang begitu dinikmati akhirnya. Seiring dengan rasa kangen yang masih terasa rasanya dahulu, kala terkenang.
Makanan begitu kan sudah ada sejak dahulu. Buat mengenang bagi si nenek. Yang mana ngerti memang kangen dengan begituan. Kan bisa sebagai pengingat kenangannya.
__ADS_1