Senja Muram

Senja Muram
Butir pasir


__ADS_3

“Kemana nih beli martabak?“ ujar Claudia yang sudah nangkring saja di jok belakang motor si Antony.


“Bagaimana kalau kita lihat laut saja,“ ujar Antony mengajak ke daerah yang banyak air nya itu.


“Kesana? Memangnya asik?“ ujar Claudia, namun dia menurut saja. Mau apa lagi sih, ya Cuma nostalgia saja. Biar terkenang di masa berikut nya.


“Bagaimana kalau kita beli baju dulu?“


“Mahal tapi…“

__ADS_1


“Kan bisa nyari yang diskon.“


Mereka menuju ke suatu toko pakaian yang sedang ada diskon besar.


“Sini?“


“Iya.“


“Ya lah, orang namanya barang jadul.“

__ADS_1


“Aku ini saja yang olah raga, kaos sama jaket dan ada konsisten nya.“


“Ini nih.“


Begitu sudah di bayar, langsung di pakai.


“Kan anget. Sembari melihat laut.“


“Tapi gatal nih, ting cekot.“

__ADS_1


“Cuci dulu nanti.“


Berikutnya mereka asik melihat laut yang luas itu. Yang tepiannya banyak butir-butir pasir nya. Seakan sebanyak taburan bintang-bintang di langit yang seperti susu saja layaknya. Guna menghidupi berbagai mahluk yang memerlukan keteduhan nya, pasir itu. Dingin sedingin air, sejuk meskipun atasnya membara tak menyerap panasnya mentari yang menghujam di kala terik. Dan para mahluk pantai itu demikian asik berada di dalamnya selain sebagai tempat buat mengaso, juga menunggu waktu dalam mencari makan yang bisa menambah panjang umur, selain sebagai kegiatan rutin di kehidupannya yang cuma memerlukan makan saja. Lain itu tak butuh. Apa itu uang, kerja, bersantai. Yang ada hanya usaha dan istirahat untuk kemudian berkembang biak menyusuri waktu yang terus merambat seiring berputarnya semesta. Selain itu sudah tak ada lagi apa yang diperlukan. Atau menanti saat ada yang membutuhkannya. Manusia, atau sesamanya yang lebih besar. Dan akan menjadikannya santapan. Seiring hukum alam yang tengah berlaku. Dimana sesamanya adalah pemangsa yang buas. Jika tidak memakan maka akan di makan. Dan ini sudah berlangsung sekian lamanya. Mulai dari terjadinya alam. Yang akan saling memangsa. Dimana bintang akan saling memangsa. Dia akan menelan apa yang lemah. Juga lubang hitam akan menelan bintangnya sebagai penambah energi dalam memutar galaksi. Lalu bintang akan menelan planet-planet dan benda angkasa yang lebih mini. Dan akhirnya galaksi akan saling memangsa, guna semakin memperbesar galaksi itu. Sehingga tak ada benda mati. Yang ada hanya perubahan bentuk dalam penggabungan benda itu sendiri. Bulir-bulir gandum akan mati demi menambah keturunannya. Dan bintang akan binasa demi memperkuat energi lubang hitam itu. Dan laut di depan mereka kini akan terus menggelora demi memindahkan bentuk lain dari benih dalam lautan. Untuk diseret serta dijadikan benih baru buat mereka yang tak sanggup bergerak. Gelora itu perantaraannya. Sehingga akan tumbuh kembang dan menjadi naungan bagi mahluk laut lainnya. Serta bersama yang buas di antaranya untuk saling memangsa, dan saling tumbuh dan berikutnya menghiasi kedalaman samudera yang senyap dan butuh getar-getar keriap yang menghiasi nya. Berikutnya mengajak sang angina, dalam menambah kekuatan kala memerlukan tenaga dalam menyeret apa yang perlu bantuan guna menautkan yang terpisah itu. Sehingga ada kala nya bantuan sosok lain begitu dibutuhkan. Demi satu yang terpisah tersebut. Berikutnya membaur kembali dan menjadikan yang dua itu jadi satu dan memaksa menjadi kan bentukan baru yang melengkapi gemerlapnya duniawi.


__ADS_2