Senja Muram

Senja Muram
Setelah mimpi


__ADS_3

“Ant ngapain?“ Si Claudia keheranan melihat Antony tengah berbuat aneh.


“Wah aku baru saja mimpi ini.“


“Mimpi? Serem Dong.“


“Iyalah.“


“kalau begitu Kemana lagi kita.“


“Orang baru mimpi kemana.“


“Ya kirain buat membuang suatu yang seram itu kita bisa kemana untuk cari happy - happy. “


“Ya sudah ke curug saja. Disitu lewat hutan.“


“Sepi tapi.“

__ADS_1


“Kan belum dicoba.“


“Boleh.“


Mereka naik kendaraan. Jalannya lumayan sulit. Apalagi pas sampi di hutan. Sangat lengang. Sudah di kasih pengeras jalan, tapi batunya banyak yang lenyap. Juga tergeser oleh roda-roda kendaraan penganggut kayu yang berat. Seperti biasa, jalanan di hutan itu dibuat memang hanya untuk keperluan mengangkut hasil hutan saja. Agar memudahkan mereka. Tapi kalau kemungkinan panen cukup lama, maka jalan akan kembali tertutup rumput, bahkan semak belukar mulai menghiasinya. Sehingga para pekerja kebun itu kembali berupaya membuka jalan. Sehingga suatu saat ada dana yang turun. Lalu di buat pengerasan jalan. Agar tidak mudah rusak, serta hasil angkutannya bisa bertambah. Namun demikian keadaan masih tetap belum bisa dibilang lancar. Sesekali saja jalan sunyi itu di pergunakan. Terutama oleh masyarakat sekitar yang hanya perlu ke lading atau melintas antar desa saja. Sehingga lambat laun, jalan yang sudahsunyi, semakin tertutup kotoran hutan. Dan itu membuatnya bertambah parah. Kala cuaca terus berubah. Dimana hujan, angin, dan badai terkadang menghantamnya. Untuk kembali menghilangkan jalan khusus tadi. Dan akhirnya seperti sekarang ini. Mesti hati-hati dalam melintasinya. Bahkan terpaksa harus menuntun kalau benar-benar sama sekali tak Nampak jalanan itu.


“Wah…“


“Kenapa?“


“Tak bisa lanjut ini.“


“Kenapa?“


“Terus?“


“Turun dulu sebentar. Biar sampai di jalan agak bagus bisa naik lagi. “

__ADS_1


“Baiklah.“


Antony jalan sendirian. Bahkan sampai menuntun motor itu. Kalau merasa sangat berat, Claudia mendorongnya.


Begitu dilakukan berulang kali. Sebab jalanan memang demikian. Terasuk bukan jalan umum. Tapi orang umum boleh melintas. Dan baru diperbaiki bila ada panenan yang mesti di bawa.


Barulah aman setelah sampai desa. Jalan di aspal dan halus. Lalu mereka melewati desa itu. Desa yang sudah ramai. Banyak penduduknya. Karena desa itu memang bukan desa tengah hutan. Tapi desa di tepi hutan yang bila masuk dari arah lain, akan menembus ke kota yang ada di seberang hutan tersebut. Serta rumah-rumah penghuninya sudah demikian bagus. Hingga menjadikan suasananya ramai, namun teduh, karena masih banyak tumbuhan yang banyak di temui.


Untuk sampai di curug. Memang sepi. Kalau biasanya hanya beberapa orang saja yang datang.


Kali ini lebih-lebih. Hampir tak ada orang.


Kendaraan di taruh sebentar. Agak jauh dari situ. Masuk ke hutan. Karena lumayan sulit untuk lebih mendekatinya.


Terus untuk mendekati curug itu melewati sungai kecil. Air sungai itu hasil dari curug di ujungnya. Dimana mengalir dan mengarah ke situ.


Sesampainya lumayan jauh. Sangat indah pemandangannya. Dan mereka hanya duduk-duduk saja di tepiannya. Memandang air terjun yang indah. Dan kali ini sangat deras alirannya. Musimnya memang berubah. Dimana kalau pas banyak, maka air deras. Dan kalau musim kemarau, air menyusut. Bahkan terkadang air nya habis sama sekali. Sehingga menjadi semacam tebing yang curam saja.

__ADS_1


Walau pengunjung ada yang dating, satu dua orang. Mereka tetap disitu. Sampai pulangnya.


__ADS_2