Senja Muram

Senja Muram
Jagung manis


__ADS_3

“Aku bawa jagung rebus,“ ujar Si Bapak yang rupanya sudah usai dalam mengerjakan tugas kantornya. Atau setidaknya sudah ingin istirahat melepas lelah kala seharian menggarap sawah ladangnya. Namun itu sudah kebiasaan. Jadi dianggapnya panas terik tadi hanya hiasan semata. Dan hasil panen yang didapat merupakan bonus. Dan esok lusa mesti dating kembali. Dengan pemikiran, tidak bekerja, maka tak makan. Itulah satu ungkapan yang simple tapi masih terasa hingga sekarang. Dan kenyatan demikian mungkin sudah terjadi semasa manusia purba berkeliaran memenuhi bumi. Sebab tak ada kisah kalau manusia purba itu bermalas-malasan. Kalau malas tentu akan mati. Memang ada manusia purba yang masih ada sekarang? Tapi masa itu kehisupan lebih keras. Alampun terasa semakin liar. Tidak selamanya bagian bumi menghasilkan. Dan yang menghasilkan itulah yang ditunggu oleh pemiliknya. Dan bukan digarap. Teknologi dahulu hanya cukup untuk berdiam diri. Kalau masih bergerak berarti belum mampu mengelola teknologi. Sementara yang diam, dia yang sudah sedikit maju. Makanya, seiring perkembangan jaman, manusia semakin komplek dalam mengembangkan teknologinya. Dan itu yang terus mengembang hingga mencapai titik tertingginya sekarang, kala mengetahui kalau dunia ini menggelinding begitu saja dan berpikir untuk tenang itu akan semakin asik dibandingkan dengan terus meratap.


“Bilang dari tadi dong pak. Kan nggak terlampau capek kita dalam memanggang si jagung ini. Sampai akhirnya kelaparan dan merasa enak walau sedikit gosong.“


“Orang kalian juga nggak nanya,“ ujar si bapak petani jagung. Istrinya sengaja membekalinya dengan jagung yang tak seberapa banyak itu hanya untuk si bapak tak kelaparan walau pulang agak terlambat nanti. Namun itu bukan utama. Meskpun selalu menanam buah itu, tapi karena bukan makanan utama, maka kesehariannya tetap memakan beras. Karena kalau belum menikmati, rasanya belum makan. Dan inginnya hanya itu melulu. Walau terisi jagung sebakul penuh, rasanya tetap ada yang kurang. Itulah sebuah kebiasaan. Dimana akan merasa kurang kalau belum mengisinya.


“Mana pak?“

__ADS_1


“Ini.“


Bapak itu mengeluarkannya. Beberapa potong. Ada kaau tiga. Meskipun sedang saja, bahkan cenderng kecil. Tapi jika dimakan sendiri sudah pasti akan kenyang dan membuat mengantuk. Untuk berikutnya rebahan di gubug tersebut rasanya nikmat sekali.


“Aku tapi kenyang ini.“


Diambilnya sedikit. Lalu di pijt pakai jemari tangan. Tidak di makan secara utuh dari tongkol nya. Sebab takut tak akan habis. Kalau cuuma sedikit kan bila tak enak, bisa langsung di buang. Meskipun tak akan tumbuh. Karena sudah mati. Lain jika jagung meskipun kering masih ada nyawa untuk menjadi benih, berikutnya bisa menjadi tunas dan batang yang berbuah lebat. Itu yang menjadi persoalan. Terkadang kalau sudah terlanjur di masak akan mati. Namu enak. Dan yang belum mati tak enak. Meskipun tanpa dikasih bumbu rasanya sudah lumayan enak. Manis-manis bagaiana gitu. Tentu akan lebih enak jika di kasih toping yang asik. Menjadi pop corn yang bentukannya demikian memukau. Serta harganya melambung. Untuk satu cup kecil saja bisa mencapai 15K. belum kalau satu keranjang penuh. Berapa duit itu. Apalagi jika topingnya pakai fariasi lain. Tentu menjadi semakin berharga. Misalkan ditambah keju, Mozarella, atau cappucino. Menjadi lebih berasa.

__ADS_1


“Enak tapi ya?“


“Makanya dibilang. Enak ini.“


“Habisin ah….“


“Cuma bikin itu yah…“

__ADS_1


“Iya lah.“


__ADS_2