
“Halo…“
“Nah kalian datang.“
Senang si Kleo kedatangan dua sahabatnya yang dengan tergopoh-gopoh dating menggunakan motor merahnya itu, untuk sekedar di parker di depan warung nya.
“Mau membantuku lagi kan?“
“Apa. Kita kelaparan. Ingin menikmati apa yang kau sajikan,“ ujar para pendatang itu dengan santainya. Lalu duduk pada bangku plastik yang disediakan dengan meja panjang didepannya.
“Yah payah!“
“Bagaimana bisa? “
“Membantu dulu kan?“
“Tak,“ ujar Keduanya yang merasa sangat lapar. Dan datang untuk sekedar membeli makanan baru dari penjual sahabat yang selama ini bareng - bareng berkerja sama demi kerjaan yang mereka lakukan itu.
“Ya sudah tapi bayar.“
“Bagaimana sih kan sering membantu.“
__ADS_1
“Uang uang teman teman kau tahu pepatah itu kan?“ ujar Kleo menguak pepatah lama yang sering bicara demikian. Katanya kalau teman itu sekedar saat membutuhkan. Sementara jika uang mesti bisa mendapatkan untung. Itu terkadang yang kurang diminati oleh beberapa orang bijak. Tapi demi bisnis segalanya itu jalan.
“Dasar… Teman apaan itu?“
“Ya sudah kalau tak mau.“
Keduanya akhirnya merogoh saku. Terus memberi apa yang semestinya. Dengan duit gede.
“Ini. Kembalian.“
“Pas yah lebih dikit juga.“
“Tuh kan.“
“Hehe…“
“Tapi membuat sendiri.“
“Wah nggak bisa dong.“
“Tenang kita bantu.“
__ADS_1
“Entar mengambil banyak lagi.“
“Dikit tambahannya.“
“Yah…“
Dengan sukarela mereka mengambil mangkuk sendir, lalu meracik bumbunya, kemudian apa-apa dituang juga.
“Ini mie dikasih penuh.“
“Waduh…“
Satu mangkuk itu penuh mienya. Yang di bulat-bulat, kemudian dipisah-pisah sendiri, agar cepat matang. Lalu dimasukkan dalam kuali alumunium besar itu. Dan hasilnya satu mangkuk takaran porsi itu penuh. Mie berikut sayur caisim nya.
“Juga ayamnya mesti berlimpah.“ Ayam yang sudah di masak di bumbui dan dijadikan semacam suwiran semur itu, dikasihnya untuk membuat satu mangkuk mie itu penuh menggunung. Ayam ini yang menjadi hal khusus. Karena enak dan tidaknya mie ayam, biasanya berpengaruh juga akan masakan satu ini sebagai toping nya. Lalu ditambah kerupuk nya untuk menjadi penyedap. Atau untuk tambahan kegiatan karena kalaupun tanpa kerupuk yang khas juga sudah bisa terjual. Tapi kerupuk pangsit ini yang kemudin menjadi ciri khas berikutnya. Seakan kurang lengkap rasanya kalau tak memakai kerupuk yang dibuat khusus itu.
“Kang nggak beres.“
“Hehe…“
“Yuk makan. Penjualnya baik hati ini.“
__ADS_1
“Dasar. Kita merajuk ini!“
Keduanya lalu asik saja menikmati dengan tatapan aneh dari penjualnya. Namun kemudian si penjual disibukkan dengan para pelanggan. Dan kedua pembeli itu langsung asik. Bahkan nanti kalau habis mesti mengambil lagi kayaknya bisa. Tinggal perutnya emlar seperti karet atau belum. Dengan sepasang sumpit dari bambu yang berkali-kali pakai itu mereka makan dengan lincah. Seakan memakai sendok saja. Sudah biasa katanya. Padahal sumpit demikian biasanya hanya sekali pakai. Lalu di buang. Entah mengapa. Jadi kayak sendok, untuk pemakaian yang berulang-ulang. Kalau sekali pakai katanya terjaga kebersihannya. Sementara ini bisa berganti tangan dan berganti pemakai. Walau dicuci, mungkin masih ada yang tertinggal. Tapi begitulah sudah kebiasaan dimana tak banyak resiko, serta kejadian, maka dianggapaman. Sehingga hamper semua penjual di kota dan di desa melakukan kegiatan yang serupa.