Senja Muram

Senja Muram
Buaya


__ADS_3

“Kok ada buaya?“ ujar Claudia masih saja merasakan kengerian yang hebat. Binatang itu kan biasanya di air. Dan kedung itu air yang terhubung pada sungai lain yang lebih besar. Meskipun demikian hal ini tentu saja membuatnya semakin ngeri. Tak pernah dia melihat demikian selain di kebun binatang, kebun nya para binatang-binatang langka. Dimana di dalamnya ada buaya itu. Yang dianggap semakin langka. Kecuali buaya darat yang semakin banyak. Tapi tidak. Buaya di daratan juga sudah menipis. Semakin punah akibat berkurangnya lokasi tempat habitat mereka. Dimana makanan yang tersedia juga sudah hilang pada alam liar. Padahal buaya-buaya itu sangat setia pada pasangannya. Sehingga jika tanpa pasangan, maka telur- telur yang dihasilkan juga tak ada.


“Entahlah. Sesuai namanya kali. Yang berarti demikian. Makanya ada hantu buaya yang mendiaminya dan membuat semua orang ngeri,“ ujar Antony yang menduga kalau buaya yang terlihat itu semacam hantu, atau mahluk halus berkulit kasar. Tapi tetap dituduh sebagai mahluk halus. Sebab kemunculannya juga aneh. Sementara pada daerah tersebut berhembus berbagai kisah menyeramkan yang sering dialami oleh orang-orang atau penduduk daerah itu. Dimana sering bermunculan banyak kisah hantu-hantu yang beraneka bentuk. Memang tak hanya di situ. Pada daerah lain juga kalau namanya mistis itu berkembang cukup subur. Apalagi jika terdapat tempat-tempat yang aneh dan penghuninya sudah tak ada. Maka kisah-kisah yang berkaitan dengannya akan semakin mudah tersebar luas. Untuk semakin menambah populernya tempat tersebut sebagai daerah yang wingit, angker dengan dihuni oleh mahluk astral.


“Wah terpaksa mandi biasa kita,“ ujar Claudia yang mesti mandi bagaimanapun adanya. Apalagi waktu ini sudah senja yang menjadi muram kala melihat semua itu sebelumnya. Kalau tidak mandi, maka akan berakibat buruk kala tidur nanti. Bisa saja mimpi yang sangat buruk dan sangat biadab. Dimana kakinya akan digigit hantu. Padahal gatal karena masih kotor. Atau lari dikejar-kejar suatu sosok bermoncong.


“Yuk nimba di sumur sebelah rumah,“ katanya lagi yang mencoba melalaikan semua itu dengan beraktifitas sesuai dengan orang-orang kampung. Apa yang biasa mereka lakukan. Dan mencoba membiasakannya.

__ADS_1


“Nimba, sudah pakai sanyo kali“ ujar antony yang tak yakin kalau jaman sekarang mesti main timba kerekan lagi macam dulu.


“O gitu. Ini kampung lo“ kata claudia tetap yakin jika kali ini juga bakalan menarik tambang kerekan buat mengambil air.


“Kampung ya kampung“


“Ya sudah langsung mandi saja,“ kata Claudia agak tenang tanpa perlu keluar keringat dulu sebelum keringatnya dibuang oleh guyuran air.

__ADS_1


“Sial!“


“Kenapa?“


“Sendal gue, ketinggalan disana tadi,“ ujar Claudia masih saja mengeluh pada satu hal yang berkaitan dengan rasa ngeri tadi. Karena terlampau terburu-buru untuk lari itu. Sehingga tidak sempat mengenakan alas kaki serta alas kaki yang terlanjur di lepas tadi. Yang kemungkinan masih ada disana, kalau tidak sedang di pakai oleh para hantu itu untuk jalan-jalan di wisata pada daerahnya atau dipakai untuk menuju kamar mandi mereka disana nanti.


“Entar ada yang mengambil,“ kata Antony mengadem-ademi agar si Claudia tak terlampau risau pada hal-hal sepele demikian.

__ADS_1


“Oke kalau begitu mandi ah,“ ujar Claudia masuk ke dalam kamar mandi untuk mendinginkan otaknya yang terlanjur panik tadi.


__ADS_2