
“Awas ada ayam!“
“Eh ayam… ayam.. Mana?“
“Tapi jangan di cincang lo ya. Ada yang punya,“ ujar Claudia. Takut dia akan melakukan hal yang sama saat seperti pada waktu sebelum itu. Lalu akan berbuat sekehendak hatinya. Terus menangkap ayam itu hidup atau mati. Lalu membereskannya dengan mencampakkan hingga hancur. Selain terasa sangat mengecewakan, juga bakalan tak mendapat ampunan dari si pemilik yang tentunya masih sangat mengharapkan dia tumbuh kembang menjadi ayam yang berguna bagi keluarganya. Baik itu nantinya untuk di goreng, dijadikan bakaran atau geprek pedas setan, dan tentu kalau tak dijual dengan harga yang lumayan, hingga bisa menjadi sumber rejeki tambahan yang bisa untuk menutup kekurangan di hari itu akibat belum ada pemasukan dari tiap pendapatan bulanannya.
“Wah untung kau mengingatkan. Tapi jangan kau bilang aku psikopat lagi ya. Takutnya aku syok. Terus minder.“ Dia berpesan. Terus mengutarakan yang tak ia sukai itu. Sebab kalau hal yang tak disukai itu diungkit terus menerus, maka akan menjadi sebuah kebiasaan. Sementara dia belum siap akan kebiasaan satu ini. Sehingga sebuah kekecewaan yang terus berulang akan semakin menambah rasa tak nyamannya. Makanya butuh waktu guna menata mentalnya agar bisa menerima kenyataan akan kekurangan yang dia derita. Bahkan mungkin berusaha untuk menyembuhkannya. Sebab kekurangan itu tak selayaknya dibiarkan, apalagi bila merugikan orang lain. Merugikan diri sendiri juga pantas diperhatikan karena yang pasti untuk satu rasa tidak nyaman itu.
__ADS_1
“Oke pat.“
“Tuh kan.“
Ayam itu tegah beranak kali. Jadi ganas. Tiap ada yang hendak mendekat akan di patok nya. Makanya tak jarang yang ketakutan padanya.
Atau khusus ayam jantan dia akan mengamuk bila bertemu lawan.
__ADS_1
Beda dengan burung.
Tapi yang jelas adanya mereka sampai sekarang pertanda sebuah kekuatan tersendiri yang bisa dijadikan senjata untuk mempertahankan diri. Meskipun tak harus mengalahkan musuhnya. Bandingkan bila seekor pipit, tentu tak akan mampu melawan elang. Maka dia akan bertelur banyak dan makan juga banyak dengan alam yang menyediakan nya. Disitulah dia mampu bertahan. Walau banyak diantaranya yang termakan oleh elang, tapi banyak juga yang lolos hingga tua dan beranak pinak lagi untuk kemudian menjadikannya penghias dunia dengan keberadaannya yang dirasa unik serta berbeda dengan yang lainnya.
“Kita usir saja ayam itu.”
Ayam itu hanya diusir dengan menggunakan sebilah tongkat bambu. Itu juga asal menemukan. Dan hanya dengan demikian sudah takut si musuh. Dia ngacir ke tempat yang lebih jauh. Jadi tak perlu harus melakukan kekerasan dalam mengusir ayam yang kecil dan enak begitu. Dan mungkin untuk langkah selanjutnya juga demikian. Tak harus melakukan kekerasan hanya untuk mengatasi segala sesuatu yang masih bisa dilakukan dengan cara lain. Namun stigma tentang itu sudah sulit di hapus. Sudah terlanjur mengakar untuk pengertian bahwa perempuan itu mudah marah. Dan selalu dibicarakan demikian. Karena memang langsung
__ADS_1