Senja Muram

Senja Muram
Ikan


__ADS_3

“Mana ikannya?“ tanya Claudia. Dia dating main ke rumah si Antony. Dimana dia masih ingat pada ikan yang mereka dapat mancing kemarin dimana lumayan lama waktu dihabiskan sampai senja yang muram datang itu.


“Sudah dikasihkan sama saudara,“ jelas Antony.


“Lo bagaimana sih?“


“Orang sudah dikasih mau apa lagi,“ kata Antony. Soalnya dia tak bisa memasaknya. Juga para keluarga lain enggan untuk memasak ikan yang hanya segitu. Makanya diberikan sama orang. Dan hal ini membuat si Claudia kecewa. Padahal dari rumah dia sudah berharap ikan itu sudah masak dengan berbagai bumbu penyedap yang bikin sedap, dan daging ikan yang empuk untuk disantap dengan nasi yang hangat, meskipun masak tadi pagi, tapi dalam magic jar tetap hangat dan sedikit mengeras. Dan harapan nya pun kini langsung lenyap.


“Terus kita gimana?“ ujarnya sedih. Rasanya bagaikan tertusuk duri dalam daging ikan. Satu keinginan tak tercapai. Dimana sudah sangat mendambakan nya. Dari sebelum nya berada di rumah. Sampai keberadaan nya disini. Tentu harapannya sangat besar. Dan kini mesti pupus. Walau hanya bentukan sedemikian saja. Namun kalau namanya keinginan, tentu mesti di dapat. Walau apapun itu. Dan jika yang di harap tak ada, gundah tentu yang berikutnya di rasakan. Ini yang terjadi, bagi mahluk dengan keinginan besar.


“Kita jajan saja yuk?“ ujar Antony agar si cewek tak sedih-sedih amat. Paling tidak ada satu penghiburan, dimana berikutnya akan dicari usaha yang lebih tepat setelah sampai pada lokasi yang dituju. Bagaimanapun sedikit banyaknya hal demikian bisa memperingan beban rasa yang berat tadi. Sehingga akan bisa memperingan, atau bahkan menghilangkan rasa sedih tadi.


“Dimana?“

__ADS_1


“Warung aja.“


Mereka segera keluar. Lalu dengan motornya si Antony terus melaju hingga berhenti pada sebuah warung yang ramai dan penuh dengan makanan yang menggugah selera. Disini mungkin bisa membuat penghiburan tersendiri bagi si punya keinginan itu. Sebab tempatnya sudah baik, dan bisa menjadi alternatif pilihan dari sekedar menginginkan apa yang sebelumnya diharapkan itu. Serta dari segi pengolahan, tentu akan lebih nikmat dan terasa. Hal ini dibuktikan dengan berbagai suara dari mereka yang pernah dating ke tempat tersebut dan mampu bersuara yang tak mengecewakan. Walaupun demikian disadari, bahwa apa yang didapat oleh diri sendiri, terkadang lebih nikmat rasanya, karena didalamnya terdapat satu usaha yang tak bisa didapat sewaktu-waktu. Mesti ada momen khusus yang mampu membuat demikian. Dan satu ketika ingin mengulang nya lagi, belum tentu hal yang sama didapatkan. Akan banyak kendala yang diperoleh demi mengulang satu waktu dan satu kemungkinan yang telah diperoleh tersebut. Dimana mesti menyadari bahwa waktu tak bisa diputar ulang.


“Mau beli apa sekarang di situ.“


Setelah memarkir motor dengan kartu parker, mereka masuk untuk melihat masakan yang tersedia.


“Pilih apa yah?“ Claudia mulai memilih. “Rendang saja dah.“


“Eh itu ada ikan yang mirip kau dapat,“ ujar Claudia melihat satu bentuk ikan yang dia hafal betul.


“Terus?“

__ADS_1


“Ambil itu aja ya lah,“ kata si Claudia terus memilih menu yang tersedia.


“Sama es teh.“


“Terus?“


“Sudah.“


Sembari menunggu makanan datang, mereka asik main HP sendiri-sendiri. Meskipun sesekali di selingi dengan obrolan.


Tak berapa lama pesanan datang.


“Yuk kita makan,“ ujar Antony.

__ADS_1


Mereka makan dengan lahap.


__ADS_2