
“Nah sini.“
“Asik nih.“
Mereka mau berhenti. Tapi tidak jadi. Terlalu ramai. Tak bisa sama sekali bermeditasi. Apalagi.
Pokoknya kurang nyaman saja. Makanya lebih baik melaju. Mencari tempat lain yang lebih nyaman, lebih nyantai serta enak buat melakukan kegiatan yang bermanfaat. Daripada hanya mendapatkan tempat yang begitu saja tak nikmat untuk dijadikan tempat duduk-duduk. Bukankah masih banyak lokasi lain yang bisa jadi apapun. Setidaknya menikmati senja agar tak muram serta menjadi kenangan indah sore itu yang tak terlupakan setidaknya untuk beberapa waktu berikutnya.
__ADS_1
“Jangan sekencang-kencangnya tapi.“
“Enggak, dikit doang.“
Pada kelok jalan. “Disini bisa nih ngebut.“
“Ih… ih….“
__ADS_1
Claudia sampai merinding. Takut terjadi kenapa-napa. Maklum anak muda terkadang tak menyadari kalau dirinya ngebut. Atau menyadari, tapi seakan tak tahu saja. Karena perjalanan dengan sedikit menabrak angin itu, rasanya tak pegal di pinggang. Cepat sampai, atau lebih sejuk udaranya. Itu yang membuat motor dipacu cepat-cepat. Hanya memang kewaspadaan mesti lebih, dibandingkan dengan yang biasa-biasa saja. Badan pegal. Punggung juga seakan ingin selalu membungkuk saja. Jika tegak sudah nggak kuat. Maklumlah, semakin pelan perjalanan, maka waktu yang dibutuhkan juga akan lama. Dengan konsekuensi bahwa keselamatan mungkin akan lebih besar persentase kemungkinannnya, jika dibandingkan dengan mengebut di jalan raya. Sebab sekali bentur saja sudah resiko nyawa. Kalau tidak maka salah satu kaki atau tangan atau kaki tangannya, bisa kawir-kawir seakan copot saja. Tapi tulah, yang biasa cepat, maka perjalaan keong akan terasa menyiksa. Demikian juga kalau biasa santai, maka mengebut bukan satu pilihan terbaik. Maka berkendara yang asik adalah jika sesuai dengan kondisi, lingkungan dan pada akhirnya selamat sampai tujuan dengan tiada kurang suatu apa pun.
“Paling berapa.“ Itu yang terpikirkan. Paling. Karena belum merasa. Kalaupun sudah sangat cepat, maka akan terus di geber. Hingga tak jarang banyak yang slip. Akibat begitu asiknya berkendara. Nanti kalau ada eror sedikit akan di tangani sama pihak yang ahli di halaman sekolah itu. Maka semua akan kembali lancar. Andai tidak menikung di jembatan saja.
“Disini berhenti.“
“Menatap langit merah.“
__ADS_1
Semburat begtu asiknya. Diantara merah dan ungu. Yang menggarit membentuk sebuah misteri. Terkadang gambarannya sangat memukau. Hingga menambah kagum para pelihat akan ciptaan yang sekali terjadi di satu harinya, pagi atau sore, atau bahkan taka da sama sekali kala mendung tebal menggayut. Mendung tipis ini yang membentuk gambaran indah akan lukisan yang dibuat alam. Tanpa perlu membentuknya. Tetesan itu yang berikutnya menangkap cahaya, dan meneruskan dengan sedikit penghalang. Serta bisa juga mengurainya menjadi warna yang lebih terang. Dan terciptalah sebuah gambaran yang unik. Bisa seram, atau memanja. Karena daripadanya membentuk gores gambar yang tertangkap oleh mata sebagai satu seni alami.