Senja Muram

Senja Muram
Hari menyebalkan


__ADS_3

“Eh lu anak baru elu si Kleo Patragraha,“ ujar De La Cruz paling getol dalam mengenal si anak dari kota itu. Maklum lama tak berbuat itu. Apalagi semakin jarang ada acara demikian. Menunggu suasana aman dan layak buat memberi kedisiplinan bagi anak-anak baru dalam usaha pengenalan lingkungan seputar daerah kekuasaannya tersebut.


“Kenapa?“ ujar Kleo. “Nama orang pakai di tambah-tambahin sok kali, klean ya!“ ujar gadis cantik itu yang tak suka dipermainkan. Di rumah juga nggak demikian orang tua dalam memperlakukannya. Dia malahan di sayang dengan diberi uang saku yang lebih dari sekedar buat beli cilok. Disini malahan anak-anak itu sesuka hati berbuat demikian.


“Bakalan di plonco!“ ujar mereka sembari tersenyum seram agar si anak itu benar-benar takut dalam menjalani kehidupan di sekolah tercinta mereka itu.

__ADS_1


“Lari keliling lapangan, itu yang mesti kau kerjakan kala pertama kali mengenal di lingkungan sekolah kami yang penuh dengan disiplin dan dedikasi tinggi ini.“ Tempat itu dipilih karena lumayan jauh dari pusat keramaian sekolah. Dan tertutup oleh gedung-gedung yang lain, sehingga tak nampak dari kantor. Dan pada satu ujung menuju daerah itu dijaga dengan ketat. Sehingga kalau ada yang datang langsung akan memberi tahu, untuk kemudian pura-pura melakukan kegiatan baik lainnya sehingga akan terkesan, jika mereka ini anak-anak yang baik hati dan tidak ada sombong-sombongnya sedikitpun.


“Lah kan nggak boleh ada acara plonco, ospek dan lain-lain yang berkenaan dengan ngerjain anak cantik kan? Kata bapaknya guru demikian,“ ujar Kleo masih berusaha membuat agar anak-anak mengerikan yang bakal jadi teman barunya itu tak semena-mena kala berbuat ulah terhadap dirinya.


“Yah yah terserah kita dong“ ujar anak-anak yang lain terutama si gendut yang suka sekali kalau mesti anak baru menangis.

__ADS_1


“Ini beda sekolahan mesti pengenalan dulu dong,“ jelas yang lain dengan penuh kata-kata debatis yang bakalan membuat lawan lena. Sehingga tak perlu banyak komplain maka akan langsung menuruti apa yang diinginkan mereka.


“Yah payah kalian. Awas ya, kalau aku sampai jadi hantu maka kalian akan merasakan akibatnya, hingga tak bakalan dapat bersembunyi walau di ujung kolong tempat tidur sekalipun,“ ujar si Kleo benar-benar tak suka cara anak-anak kampung itu dalam memperlakukan dirinya yang manis. Bica capek dan letih-letih nantinya. Sehingga memerlukan tukang urut untuk mereposisi tulangnya yang keseleo. Bahkan jika terlampau jauh, akan membuat dia tak betah di lingkungan baru ini. Sehingga di kemudian waktu hanya keluh kesah yang ada atau malahan menangis di setiap waktunya.


Akhirnya Kleo keliling lapangan parkir beberapa kali sampai ngos-ngosan dan letih. Mula-mula pelan, lalu disuruh cepat seiring dengan suara gendang yang terus kencang dalam memukul.

__ADS_1


Kayanya anak-anak menjelang lulus itu nggak akan berhenti berbuat kejam kalau belum sampai nangis.


__ADS_2