Senja Muram

Senja Muram
Nonton 9


__ADS_3

“Nah ini pelem baru nih.“ Banyak yang dibuat. Bahkan karena lama tak boleh membuat sehingga tak sedikit yang pemasukannya kurang. Meskipun begitu, karena merupakan suatu kerjaan, sehingga tetap membuat walau untung sedikit, asal bisa lancar. Dan bila itu sebuah film yang diunggulkan akan di tayang beberapa waktu berikutnya, sementara rumah produksi membuat produk lain yang harganya tak semahal itu. Maka akan terus berjalan walau banyak badai menerpa.


“Nonton lagi?“


“Iya, kan tempatnya beda. Sekarang banyak tempat untuk menonton beginian.“


“Ayuk. “


Mereka memarkir kendaraannya. Ternyata tempat parker sudah penuh. Nah begini yang kadang bikin kacau. Kadang nomor bisa lepas, atau sisi cat tergores akibat bersentuhan dengan kendaraan lain yang mencoba saling kenal. Makanya perlu penataan yang rapi. Walau kadang masih saja terjadi hal yang tak diinginkan akibat demikian berebut nya tempat. Selain di tempat kendaraan, maka pada loket biasanya juga mengular. Ada tuh yang sampai keluar lobi demi mendapatkan tiket. Walau sudah ada aplikasi online, tapi beberapa orang yang ingin mendapat secara mendadak, akan tetap saja dating langsung, juga memperkirakan waktu santai, setelah seharian kerja, atau taka da kegiatan lain pada jam tertentu ini. Kalau sudah membeli online, maka di khawatir kan waktunya berbarengan dengan sebuah acara mendadak yang tak bisa di gantikan. Itulah yang akhirnya membuat saying, untuk satu nilai uang tiket yang hangus itu. Mana tak bisa ditukar di lain jam. Akibat bisa berbenturan dengan penonton lain yang sudah memesan. Soalnya beda dengan membeli semacam sepatu yang bisa di tukar atau nitip sebentar untuk diambil waktu lain. Kalau hal ini akan merugikan salah satu pihak bila gagal. Dimana pertunjukan terus berjalan, namun pemasukan tak ada, kalau bisa di tukar. Jadi uang terus hilang meskipun tak menonton, atau tiket yang satu untuk berdua tapi dating Cuma satu tak akan di ganti.


“Mau nonton yang mana?“

__ADS_1


“Itu lah yang serem. “


“Ular.“


“Ular apa hantu?“


“Ya salah satu, saja lah.“


Mereka menuju ke loket, dimana mencari yang murah saja. Satu tiket bisa untuk berdua. Kan lumayan, dana sisanya bisa untuk membeli pop corn atau minuman segar dingin madu, yang lumayan bisa mengisi perut keroncongan. Juga bisa menunda lapar hingga film kelar meskipun panjangnya bisa hampir dua jam.


“Tapi penuh nih.“

__ADS_1


“Hari pertama saja sudah 7puluh ribu.“


“Wah tak dapat tempat kita.“


Begitu kalau lagi ramai. Bahkan baru buka saja sudah penuh. Itu juga penayangan masih beberapa hari ke depan. Mereka sudah membeli baik itu antri maupun secara online. Karena bisa demikian. Akan memberi nomor yang sudah di pesan dengan harga sama. Karena film bagus akan dengan mudah menarik perhatian para penonton. Lain kalau tak disuka, walau dua tahun di promosikan maka akan tetap saja tak ada yang minat. Walau begitu dengan kegigihan mempromosikannya membuat beberapa ada yang tertarik, jadi bisa menutup dana produksinya.


“Kan serem,“ ujar Antony. Sembari menggandeng tangan Claudia. Mereka keluar berbarengan dengan anak-anak yang juga selesai. Banyak yang mukanya pucat pasi, entah mengapa.


Terkejut. Ada teman satu kelas yang menonton juga serta ingin bersalaman. Dikira itu ular tadi yang sudah keluar dari layar untuk mencari penonton karena teriakannya paling keras tadi.


“Waaaa….“

__ADS_1


__ADS_2