
“Pistol Itu Dia buang ke sumur,“ kata Antony yang mengingat kembali sewaktu ditemukannya pistol dulu itu. Di tempat yang aneh.
“Yang buat menembak,“ ujar Claudia yang juga ingat kala mereka menemukan benda tersebut berikut sampah-sampah yang tak sewajarnya di bekas sumur dulu itu.
“Iya itu.“ Antony menunjuk pada benda berbahaya yang diangkat dari sampah yang ternyata masih aktif dan bisa difungsikan kegunaannya..
__ADS_1
“Dan kita temukan di sumur sampah Itu.“
Teringat saat baru satu meter dudah bisa mendapatkan suatu bukti yang tepat.
“Dia menembak lewat jendela yang dibuka oleh Trajan sebelum peristiwa Itu sehingga sedari sore sebenarnya jendelanya sama sekali tak dikunci".
__ADS_1
“Kenapa Trajan juga luka?“
Claudia ingat bagaimana suaminya juga ikut di perban pada salah satu bagian tubuhnya yang sebelum ini tak mengira kalau demikian kenyataannya. Sehingga banyak yang berpikiran kalau si suami tersebut yang bisa jadi pelakunya. Meskipun setelah kejadian si suami terikat serta darah keluar dari lukanya. Bisa jadi dia hanya menembak lalu pura-pura terikat kemudian dia menembak dirinya sendiri pada suatu tempat yang tak membahayakan nyawanya, tapi menimbulkan luka yang terkesan sangat menyeramkan tersebut. Tapi ternyata hal ini dilihat lain oleh Antony yang sudah mengetahui alur kisahnya.
“Saat itu mereka dalam permainan aneh. Di mana suami istri itu bermain dalam kamar tertutupnya, sampai kondisi mengerikan terjadi dimana tangan si suami sampai di ikat seperti itu yang merupakan hal biasa dilakukan kala tengah melakukan permainan tersebut. Dan si istri yang melakukannya. Sebab disitu juga tak ada orang lain. Dan dalam kamar hanya ada mereka berdua. Jadi siapa lagi yang melakukan kalau bukan dia?“
__ADS_1
“Dan satu ketika posisi mereka saling berdekatan. Nah pada saat itulah si Pretoria melakukan aksinya dengan mulai membuka jendela dengan sangat hati-hati dengan penuh perasaan. Dengan harapan jangan sampai ada yang mendengar. Tidak juga dengan rumput daun di sekitar tempat tersebut. Untuk tetap menjadi saksi bisu demi terlaksananya rencana aneh itu. Berikutnya dia lalu mengarahkan moncong senjata nya pada sang istri dengan sangat cermat. Namun bidikan yang dia lepaskan tak sempurna. Salah satu sebab nya karena dia bukan penembak jitu. Hingga itulah yang berikut nya terjadi. Saat pelatuk di tekan, Trajan terserempet peluru tersebut, sebelum menembus tubuh istrinya. Sehingga itulah yang terjadi. Luka yang kini terlihat akibat dari ketidak cermatan kala membidik pada satu titik fokus bidikan. Dan berikutnya jelas turut membingungkan kita dalam merunut akan peristiwanya.“