
Penarinya menggunakan ebeg, atau jaran kepang, atau kuda lumping. Yang di buat menyerupai gambar kuda. Dengan kepala menekuk ke bawah, seolah tengah menatap jalanan, padahal itu di bentuk agar pada bagian lehernya bisa untuk di pegang dan menaik turunkan kepala tersebut layaknya seekor kuda yang jalan. Lalu bagian ekornya di kasih rambut yang merupakan ekor kuda. Dan bagian tengahnya untuk bisa di selipkan ke bawah penari, biasanya kuda kepang itu akan di hias seindah mungkin menyerupai kuda betulan.
Mereka menari seakan tengah menaiki kuda sungguhan seperti di tempat wisata yang menyewakan kuda untuk di naik i wisatawan dengan membayar sepuluh ribu saja. Lalu kuda di tuntun mengelilingi jalanan tempat wisata. Atau kalau berani jalan sendiri dengan hati-hati.
Terus ada alat musik yang lumayan banyak, namun tak sebanyak pada pentas wayang.
“Nah sini. Menunggu acara selanjutnya kita makan-makan dulu,“ ujar Antony mengajak Claudia untuk menuju ke sebuah warung dadakan, yang hanya menggunakan meja supaya bisa di bongkar pasang. Maklum hanya sementara. Kalau permanen bakalan sulit. Karena nanti sore juga bubar, atau kalau masih main di acara malam, maka tengah malam itu mesti di bongkar semua kios dadakan itu. Makanya warung itu hanya dari meja yang di bawa dari rumah dan tak seberapa berat.
“Buah, banyak tuh.“ Mereka makan dagangan tersebut dengan asiknya. Apalagi suasana panas begini. Kalaupun bukan cuacanya, maka banyaknya orang yang tengah berebut udara tentu semakin membuat gerah. Dan ini terjadi pada mereka. Makanya di sela-sela tontonan yang masih sama gerakannya dari awal tadi, maka sedikit singgah ke tempat teduh akan menambah energi dana pa yang sederhana sekalipun kalau bisa dinikmati akan terasa nikmatnya. Tak terkecuali dengan jajanan begitu saja sudah membuat berselera para penonton yang tentu membutuhkan suatu asupan makanan untuk menambah dan mengembalikan tenaga yang sedikit terkuras mulai dari perjalanan ke situ sampai berdesak-desakan dengan orang yang ingin tahu hiburan yang tengah berjalan tersebut.
“Ya kan lezat.“
Tanpa terasa sudah banyak yang dimakan. Dan hanya tinggal kulit luar yang keras.
__ADS_1
“Berapa semua?“
“Apa saja?“ tanya sang penjual.
“Semangka enam, melon lima, nanas juga dan nasi bungkus satu.” Claudia juga mengatakan yang sudah di makan nya.
“150 saja.“
“Kenapa?“
“Dompetku ketinggalan,“ jelas Antony, dia lupa tak membawa itu. Sentuh dia simpan di atas pintu, atau di bawah tumpukan bantal, lupa entah dimana. Lagian sedikit terburu-buru tadi kala berangkat.
“Kehilangan apa tertinggal?“
__ADS_1
“Tahu nih.“ Antony semakin bingung. Kalau hilang bakalan runyam. Karena selain uang, juga surat-surat penting. Bisa mengurus ke pihak terkait untuk urusan demikian saja. Mana untuk hal demikian sekarang sulit. Kalau tak blangko yang kurang, bisa jadi urusan yang berlibet, karena banyak yang butuh juga. Sehingga antrian sangat panjang melebihi antrian minyak, atau sembako. Ini tentu bakalan membuang banyak waktu.
“Hehe…“
“Pakai KTP saja.“
“Jangankan KTP, dompet saja nggak bawa. KTP kan di dompet. Waduh gimana nih?“ Antony semakin bingung. Semua surat ada di dompet. Dompet tak ada. Maka uang dan KTP tentunya juga terbawa dompet tersebut.
“Ya sudah. Ini…“
“Wah. Untung kau bawa.“
“Ya bawa lah, nonton kalau nggak bawa uang bisa repot,“ jelas Claudia.
__ADS_1