Senja Muram

Senja Muram
Senja datang


__ADS_3

“Nenek Senja!“ Claudia datang sembari membawa kendaraan hitamnya menemui Si Antony. Namun yang ada Nenek Senja jadi sekalian saja dia menyapanya.


“Kau Claudia?“


Nenek Senja menyuruh dia masuk saja sembari melanjutkan kegiatannya yang tak perlu berhenti. Sebab sudah merasa seperti kerabat. Si Claudia sudah sangat sering datang ke situ. Jadi si Nenek juga sudah sangat paham. Makanya dia sudah menganggap seperti keluarga sendiri.

__ADS_1


“Iya Nek.“


“Antony nya ada?“ tanya Claudia untuk menemui sahabatnya yang katanya sudah pulang dari membantu rekannya punya rekannya ini. “Ini nek, aku juga bawa martabak jumbo.“


“Itu si Antony ada di dalam,“ ujar Nenek Senja sembari mukanya menunjuk ke arah, dimana cucunya tadi berada. Dia sendiri terus melanjutkan aktifitasnya. “Taruh saja yang kau bawa itu di situ dulu, aku sedang memarut ini dulu.“

__ADS_1


“Iya Nek.“


“Ayuk kita makan bareng,“ kata Nenek Senja yang senang ada oleh-oleh untuknya. Untuk bisa dinikmati bersama nantinya. Memang makanan seperti itu sangat banyak. Tapi keikhlasan dari yang membawanya itu sudah sangat membuat senang hati bagi si nenek. Tak hanya makanan itu saja, semua benda yang dibawa para tamu akan sangat membuat senang bagi si punya rumah. Merasa diperhatikan serta merasa dihargai. Tak selamanya para tamu membawa oleh-oleh. Terkadang si tamu ini merasa malu. Merasa kalau apa yang dibawa tak layak. Karena dia menganggap yang punya rumah lebih mampu dibanding dirinya. Namun akan lebih layak jika datang berkunjung tangannya menggenggam. Membawa sesuatu. Bukan hanya secara tangan kosong.


“Tapi kalau ingin minum buat sendiri ya,“ ujar Nenek yang merasa Si Claudia sudah hafal dengan keadaan rumah tersebut hingga apa-apa sudah bisa berbuat sendiri. Tak merasa aneh. Atau akan berbuat hal-hal yang mengerikan, akibat sudah biasa dilakukannya tersebut.

__ADS_1


“Iya Nek,“ Si Claudia lalu menuju ke ruang belakang untuk membuat minum bagi dirinya sendiri. Karena si nenek tengah sibuk. Sangat tak enak rasanya kalau mesti menghentikan pekerjaan yang tinggal sedikit itu. Namun tak nyaman juga kalau mesti membiarkan yang datang tapi tanpa sambutan. Makanya diantara itu. Dia menyambut namun juga masih menyelesaikan pekerjaan yang tak demikian lama itu. Sehingga nantinya, pekerjaan juga tak terbengkalai, namun yang datang juga tak merasa disepelekan. Jadi dia merasa masih sangat senang untuk datang ke tempat tersebut.


Setelahnya dia membawa kopi ke dekat nenek dan mulai menempatkan jajanan itu pada piring ceper. Dan mereka lalu makan bareng. Nenek senja berhenti. Yang rupanya sudah menyelesaikan kerjaannya tersebut. Nenek lalu cerita macem-macem. Mulai jaman Rekiblik sampai sudah punya cucu, dia ceritakan semuanya sama si Claudia sembari menunggu Antony.


__ADS_2