Senja Muram

Senja Muram
Terjerat


__ADS_3

Berikutnya dicari sesuatu yang membingungkan, sembari jalan-jalan melihat-lihat desa yang sunyi, sepi dan mencekam itu.


“Ih... hampir jatuh.“


“Kenapa sih?“


“Tahu, ada tambang,“ kata Claudia. Dia melihat ada sesuatu di kakinya. Sesuatu yang aneh tampak melintang demikian panjangnya.


“Jerat ini.“


“Kali. Tapi kelihatannya itu hanya benang layang- layang. Maklum musim begini banyak yang main permainan asik itu.“


Daripada tak ada kerjaan anak-anak biasanya menghabiskan waktu bermain demikian. Tak hanya anak-anak, orang tua juga masih ada yang menyukai permainan ini. Mereka kebanyakan hanya menaikkan layang-layang itu untuk anak dan cucunya sembari mengasuh mereka agar terhibur oleh sesuatu yang murah meriah atau bahkan gratis. Karena bahan pembuatnya juga sangat mudah didapatkan. Sembari memanfaatkan adanya angin yang demikian kencang dan melaju demikian saja tanpa ada manfaatnya. Makanya mereka sedikit banyaknya menggunakan hal demikian.

__ADS_1


“Ya sudah kita terus jalan.” Mereka melanjutkan langkah sembari menghindari tambang yang melintang. “Ini barangkali hanya tambang bekas anak-anak yang kalah kala layang- layang mereka di adu antara mereka. Atau justru bekas tambang yang layang- layang nya turun dengan sendirinya. Karena sepanjang hari itu mereka naikkan dan tambang diikat pada suatu pohon atau tempat kuat, agar tetap berada di ketinggian seperti drone. Dengan satu kisah yang kurang, dimana angin yang membuatnya terbang mesti kekurangan kekuatan, membuat layang-layang itu turun perlahan. Kalau diketahui yang punya, maka akan ditarik dengan kuat sehingga mampu terbang lagi. Tapi kalau tidak, maka layang-layang tersebut akan turun sampai tanah, atau nyangkut di pepohonan. Bahkan yang membahayakan jika sampai mengenai kabel listrik yang akan menimbulkan arus pendek.


“Eh....“


“Apa?“


“Kalau lihat jerat ini jadi ingat sesuatu,“ kata Antony hendak mengungkapkan sesuatu yang juga berbau misteri.


“Ingat apa?“


“Yah Antony... Aku pingin pulang. Nanti kalau nggak jadi bagaimana?“ ujar Claudia sembari sedikit tersipu.


Mereka terus berjalan menuju ke suatu tempat yang tak diketahui ujung nya.

__ADS_1


“Kemana lagi?“


“Menyelidiki lah,“ ujar si Antony dengan penuh percaya diri. Kali ini kayaknya akan menemukan titik terang yang bagus.


“Ke rumah itu lagi?“ ujar Claudia. Dimana telunjuk nya menunjuk pada rumah milik Trajan yang terus saja sepi dan jauh dari ramai.


“Kali ada yang kita dapat,“ kata Antony yang terus berjalan mendekati rumah misterius tempat meninggalnya si istri Trajan itu secara misterius pula.


“Makanya lebih baik kita pulang jadi tak ketemu sama si Cruz itu dan biarkan dia dengan permasalahan keluarganya itu,“ ucap Claudia yang kembali ingin pulang kala mengetahui daerah tersebut tampak sunyi dan mencekam. Apalagi kali ini tanpa penerangan yang kuat. Keadaan bertambah runyam rasanya.


“Terlanjur lah,“ jelas Antony. Dia terus saja menyelidiki kalau –kalau ada sebuah benang merah petunjuk jitu untuk membongkar kasus ringan yang mesti di pecahkan, tapi sejauh ini sama sekali tak mampu diungkap.


“Besok-besok kita pulang,“ ujar nya lagi, jika semua itu tak ada yang mencerahkan suasana untuk membuka tabir yang sepele itu.

__ADS_1


“Nah itu...“ Mereka pandangi rumah yang terang namun kelihatannya sunyi sepi dan tak ada yang nampak dari situ. Seperti biasa, rumah itu juga tetap tak menunjukkan apa-apa selain hanya rasa bingung dan bingung.


__ADS_2