Senja Muram

Senja Muram
Penasaran


__ADS_3

“Benar-benar nggak jadi ikut dia?“ ujar Kleo pada Antony akan Claudia yang tidak bersama dengan pacarnya tersebut.


“Enggak. Dia masih merasa takut akan kejadian dulu itu. Kita berangkat berdua saja jadinya,“ kata Antony yang merasa lumayan kecewa namun bagaimana lagi kalau keinginannya sudah demikian nanti hal lain bisa di bantu Kleo ini, paling.


“Sini aku bonceng,“ kata Antony sembari mengajak Kleo untuk naik ke boncengan kendaraan merah miliknya tersebut. Dengan membawa motor merah tersebut, serasa lebih praktis. Selain cepat, juga bisa melewati daerah-daerah yang tak terjangkau oleh kendaraan besar, mobil misalnya. Selain itu memang kepunyaannya hanya itu. Kalau membawa kendaraan besar, mesti mendapat ijin dari orang tuanya. Yang kemungkinan tak dapat hasil juga. Jadi yang jelas-jelas bisa diperoleh hanya dengan kendaraan miliknya yang kemana-mana ikut berpetualang mengejar banyak misteri yang tak bisa dikuak bahkan oleh dia sendiri.


“Oke kalau gitu,“ kata Kleo yang senang-senang saja jadi tak perlu menunggu jemputan hanya untuk hal itu. Bukan karena mengirit pengeluaran, tapi karena kebetulan memang si Claudia tak ikut. Jadi lebih terasa kebersamaannya untuk lebih memadukan langkah, bagaimana untuk melanjutkan penyelesaian kasus yang bagi mereka lumayan berat.

__ADS_1


Mereka berkendara menyusuri jalanan ramai dengan berikutnya sepi. Dimana masih banyak kendaraan, lalu akhirnya tinggal satu dua orang saja yang bersedia mencangkul di ladang sunyi. Hingga mendekati hutan yang konon tempat asal muasal mereka hendak menemui mahluk misterius itu.


“Mana rumahnya?“ tanya Antony yang merasa sudah lumayan jauh mereka naik motor merah itu tapi tak kunjung sampai jua.


“Sebentar lagi,“ ujar Kleo merasa kalau Antony sedikit ragu dengan perjalanan panjang mereka yang memang lumayan jauh serta menuju kesunyian.


“Dia sih nggak tahu apa-apa,“ ujar Kleo menjelaskan yang paham bukan diri keluarganya karena ia memang sangat penasaran pada kisah–kisah itu.

__ADS_1


“Jadi yang tahu orang yang ngalamin,“ ucap Kleo kalau kisah orang-orang yang bertemu dengan mahluk itu tak ada hubungannya sama om nya tersebut. Meski keluarganya memang asli daerah itu, tapi mengenai pengalaman mistis tersebut tak dialami orang-orang tersebut. Bukan hanya keluarganya itu, namun sebagian besar penduduk di sekitar hutan tadi juga tak pernah bertemu. Bahkan ada yang sama sekali tak mempercayai keberadaannya. Dan itu sah-sah saja. Mereka untuk tidak mempercayainya. Karena yang merasa bertemu hanya beberapa gelintir orang saja yang kebetulan mendapat penampakan tersebut.


“Jangan-jangan itu bukan srigala tapi skala,“ kata Antony mulai menduga-duga. Seperti kebiasaan, semua tak ada hubungannya sama mistis, hanya sekedar pandangan manusia pada satu sisi, yang tak sempat melihat di bagian lain dari apa yang disebut misteri tersebut. Jadi nanti kalau semua sudah terkuak, hanya akan paham segalanya demikian saja terjadi. Tanpa misteri.


“Skala bagimana! orang jelas-jelas itu manusia srigala,“ ujar Kleo yang langsung menepis dugaan temannya. Dan meyakini kalau pikirannya serta perkataan orang-orang yang mengalami merasa bahwa hal itu sungguh-sungguh terjadi.


“Siapa tahu itu skala guna mengukur hutan dan memetakannnya dalam usaha pembukuan lokasi agar lebih simpel.“

__ADS_1


“Ada saja. Ya nggak mungkin, srigala jadi skala gitu.“


__ADS_2