
“Nah mancing sini.“
Merekapun berhenti di muara sungai tersebut. Diantara sungai-sungai besar dan berujung pada suatu hamparan air yang demikian luas. Namun belum menjangkau samudera. Dimana air sudah asin. Dan bercampur dengan air sungai yang keruh. Dan diantara tepiannya banyak tumbuh tanaman liar yang begitu indah. Sekaligus sebagai penguat tanah agar kuat dan tak mudah terkikis oleh kuatnya arus air yang terus menyeretnya menuju kedalaman yang suram. Dan juga akan membuat apa yang berada di dalam sedikit berlainan. Jadi perpaduan antara ikan air tawar dengan air asin. Dimana tumbuh dengan sendirinya suatu habitat yang unik. Meskipun tak bisa disejajarkan dengan planet jahat yang mengembara tanpa induknya. Disini ikan-ikan itu masih merupakan perpaduan antara yang asin dan tawar. Dimana mereka akan mampu bertahan pada rasa asin samudera. Namun tak ingin berebut juga dengan ikan-ikan air tawar yang cenderung kecil. Mereka lebih menyukai air payau yang demikian saja terjadi pada daerah pertemuan antara dua air beda rasa itu. Dan satu ketika mereka juga mampu menjelajah lautan. Meskipun tak bisa berlama-lama. Selain demikian berbahaya, juga pada tubuh mereka yang membutuhkan air tawar guna kebutuhan lain yang mesti di resapi oleh tubuh lunak itu. Dengan memperhatikan juga bahwa ikan-ikan asin lautan itu demikian siap memangsa mereka kalau sampai terlihat oleh sorot mata buas mereka. Sebab lautan selain ganas oleh iklimnya, juga para penghuninya yang saling sikat, apa yang bisa dimakan akan mereka makan, sampai ada juga pemburu yang kemudian memakan mereka. Lautan juga merupakan rimba ganas di kedalaman. Siapa yang kuat, dia yang mampu bertahan. Walau tak mesti bertubuh besar. Kenyataannya banyak ikan kecil yang sanggup menghuni kedalaman samudera yang kelam. Mereka hanya mengandalkan kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya. Dan kegelapan itu yang justru membuat mereka mampu bertahan hidup. Dimana para predator raksasa tak akan mampu masuk ke dunia nya.
“Yuk pulang. Sudah sore,“ kata Antony. “Senja sudah demikian muram.“
__ADS_1
“Lo, nggak nunggu sampai kita terdampar di pulau?“
“Ya enggak lah.“
Lanjutnya, “tak bisa pulang kau nanti.“
__ADS_1
“Wih biawak,“ Nampak di suatu kejauhan sana satu bentuk binatang yang demikian menyeramkan. Antara buaya atau kadal. Kalau buaya istrinya tak banyak, tapi kalau kadal… maksudnya kalau buaya tak demikian besar, tapi kalau kadal demikian besar dia. Dia paling sebesar kadal monitor atau segede bunglon bunting.
“Sudah menyelam dia.“ Biawak itu langsung menuju sungai berair keruh dan menghilang setelahnya. Entah mencari makan, atau cuma sebentar dia tengah mengeringkan kulit tubuhnya agar hangat.
“Tak ditangkap kah?“
__ADS_1
“Tak.“
“Sulit. Dia juga mau menangkap ikan.“