Senja Muram

Senja Muram
Misteri Ladang Jagung 2


__ADS_3

“Begitu yah…“ sepertinya mengerti. Setelah memperhatikan dinding, kalau-kalau ada bercak-bercak atau bekas apapun yang tertinggal. Atau mengeruk apapun yang ada di bagian bawah rumah itu. Dan mengerti.


“Bagaimana tahu sekarang?“ tanya Claudia. Dia sudah sangat penasaran dengan hasil yang sedikit membingungkan, buat nya.


“Sepertinya aku sudah paham,“ kata Antony yang mengerti untuk satu peristiwa ini.


“Nah begitu asik ini. Dia kena teluh kan?“


“Ya kali…“


“Lo…“

__ADS_1


“Jadi begitu. Dia kena penyakit berbahaya yang tidak setiap orang mengalaminya. Dan inginnya bunuh diri. Mengikat dengan tali. Di atas kayu melintang dalam rumahnya ini. Namun kursi yang dipijaknya patah. Dan tambangnya tak kuat menahan berat badannya. Itulah makanya ada guratan di leher. Namun tak mati,“ jelas Antony yang merasa jika sesuatu itu masih bisa dijelaskan walau sedikit sulit.


“Aneh ya.“ terasa aneh, soalnya hanya begitu saja dan tak ada masalah berat yang mesti di telusuri. Tapi bagaimana lagi kalau semua itu


“Sekarang dia kemana.“


“Di ladang jagung kan? “


“Tidak. Dia hanya tertidur. Karena kelelahan saja. Dan mungkin karena meminum. Obat penghilang rasa sakit.“


#

__ADS_1


“Oh ternyata begitu,“ ujar mereka yang ada di situ. Yang baru memahami kalau orang petani itu tengah berada di ladang nya hanya ingin bersantai saja. Melupakan apa yang terjadi. Dan tak perlu melakukan apa-apa lagi demi sesuatu yang tak baik. Makanya dia akan menuju tempat itu melupakan yang terjadi, kemudian memandang alam sekitarnya, bahwa sesuatu yang apa adanya juga bisa menghilangkan rasa gundah. Sungguh mengerikan kala mengetahui perjalanannya akan berakhir. Namun andai dihadapi dengan lapang, maka bisa menjadi hal indah di sisa waktu itu.


“Iya.“


“Itulah sakit. parah kayaknya ini,” ujar sang Petani. “Aku kena kanker ganas. Di kepala pada jidat ini, mungkin hanya yang nampak saja.“ Memang penyakit demikian sangat banyak bentuknya. Walau terkadang penyebabnya hanya satu jenis itu saja. Dan tak selamanya membahayakan. Karena dalam kapasitas yang tergolong kecil, benjolan itu mungkin hanya sekedar daging tumbuh yang kenyataannya sampai tua juga masih bisa bertahan hidup. Sementara pada beberapa kasus, akan menjadi suatu masalah yang serius walau terkadang tanpa memperlihatkan benjolan. Dalam artian bentuk itu mungkin berada di balik daging, jadi dari luar tak Nampak namun bagian dalamnya penyakit itu menggerogoti hingga menuju ke jantung untuk dihentikan detaknya.


“Lalu aku ingin mengakhiri hidup ini. Biar tidak merasa sakit lagi. Dan tidak merepotkan keluarga disini. Namun ya begitu gagal,“ ujar petani itu dengan sedihnya. Sedih yang tak tergantikan. Mengetahui itu sudah di depan mata. Dan lebih pedih lagi kala menyadari kalau kepergiannya mungkin akan menyisakan duka. Barangkali satu keluarga itu tak demikian memikirkannya. Hanya bagaimanapun kalau meninggalkan orang, sudah pasti akan menjadi sebuah beban. Baik akan permasalahan yang masih ada, atau untuk sesuatu yang kurang baik lainnya. Sehingga inginnya semua itu sudah tuntas. Dan taka da lagi yang mengganjal dalam hatinya. Itu sudah cukup serta melegakan buatnya yang tengah menjalani sebuah halangan besar di depan tanpa orang lain paham.


Sebenarnya ingin dia memberi tahu kalau semua itu sudah merupakan kehendak yang kuasa. Agar dia tak mengulangi lagi perbuatan tak baik itu. Namun sebagai manusia dia tak sanggup mengatakan hal yang seakan menggurui. Dia tak yakin kalau kata-katanya bakalan bisa didengar apalagi dilaksanakan sama yang tengah kena musibah ini. Tapi kalau tak dikatakan juga merupakan sebuah kekeliruan. Sebab itu memberitahu kalau yang dilakukan bukan hal yang benar.


Akhirnya hanya terdiam membiarkan apa yang sudah terjadi. Dan biar berlalu. Sekarang yang terpenting adalah menguatkan hati. Bahwa sakit ada obatnya. Sedih juga ada obatnya. Sakit dan kesedihan bisa terobati. Bahkan disembuhkan. Walau terkadang waktunya yang belum menjangkau. Sehingga belum waktunya sudah harus kedahuluan dengan dipanggil oleh yang kuasa. Namun jika orang tersebut bisa melampaunya dengan hidup dalam semangat, maka akan menjadi suatu pertahanan diri akan rasa sakit itu. Dan imun yang ada turut membantu menahan rasa hingga pada titik tertentu membuat bisa bertahan. Beda pada orang yang sudah patah semangatnya. Dia akan diam saja dan pasrah diri, bahwa segala sesuatu sudah seperti itu adanya. Maka dia juga akan menghambat daya tahan tubuh untuk ikut aktif berperang melawan sakit itu. Sehingga tak jarang persen terbesar dari itu akan membuat semangat lemah kemudian ikut lemah juga nasibnya.

__ADS_1


__ADS_2