Senja Muram

Senja Muram
Ikan Ceria


__ADS_3

“Yuk jalan“ ujar Antony menghampiri si Claudia yang juga telah siap menungggu di depan pintu gerbang rumahnya untuk dijemput.


“Naik apa kita? Motor? “ tanya si Claudia memperhatikan.


“Iya.“


“Tak pinjam mobil papa kau?“

__ADS_1


“Tak, dipakai kerja sama bokap.“


Mereka berangkat melaju dengan kencang untuk sampai ke lokasi yang dituju.


“Nah, sini saja,“ ujar Antony sembari memarkir Kendaraannya.


“Hehehe, asik kan?“

__ADS_1


Mereka tiba di sebuah bendungan yang sangat bagus dan lancar alirannya meskipun tak semua pintu dibuka.


“Airnya kencang sekali,“ ujar Claudia memandang salah satu pintu bendungan yang dibuka sebagian dan nampak air meluncur dengan deras untuk menembus lubang pintu tersebut.


“Ikan tak bisa lewat dong,“ ujar si Claudia sembari terus mengamati bendungan yang sangat deras arusnya tersebut.


“Emang napa? Tak bisa bertelur?“ ujar si Antony lagi begitu menyaksikan betapa kuat arus yang tak mungkin dilalui oleh ikan-ikan yang mungil.

__ADS_1


“Iya. Mereka kan mesti ke atas mencari daerah hulu yang sebisa mungkin mendekati titik tertinggi supaya jarak sampai air asin juga jauh biar telur tak mati semua meskipun ada yang tak menetas namun karena jumlahnya ribuan maka beberapa diantaranya sanggup menetas bahkan menjalani perjalanan hidup hingga dewasa dan siap melanjutkan keturunannya lagi sampai laut nanti sebab telur-telur itu tak bisa beradaptasi dengan kandungan garam dalam air laut yang membuat benih mati.“ Mereka terus membayangkan kehidupan ikan itu seperti logika salmon di luar sana. Namun demikian tak hanya jenis itu. Sebab di daerah sini juga ada jenis-jenis ikan yang tabiatnya demikian. Memang semacam ikan, maka akan sama saja kehidupannya. Biasanya kalau sehabis hujan, lebat atau ada bencana. Dimana air melimpah, maka berbagai ikan air tawar, yang tak Cuma satu jenis, akan terlihat berombongan untuk menantang derasnya air menuju ke hulu suatu sungai, dimana air sedang meluap. Sebab kesempatan tersebut tak mesti datang setiap waktunya seperti datangnya bulan, yang sudah pasti. Hujan disertai badai, hanya beberapa kali saja terjadi atau bahkan terus menerus sesuai cuaca yang tengah bergerak. Dan itulah secara hewani, mereka mengikuti nalurinya untuk menuju ke arah hulu. Dimana akan mencari kesempatan sebaik-baiknya, agar bisa menjangkau titik tertinggi dari aliran air tersebut. Yang seringkali pada sebuah hulu sungai yang panjang. Atau hanya pada sebuah petak-petak sawah yang tak seberapa jauh. Disana mereka akan bertelur. Untuk kemudian dibuahi si jantan. Dan membiarkannya hanyut pada aliran deras tersebut. Untuk berikutnya mereka akan menetas sendiri-sendiri dalam air sungai yang dingin. Beberapa diantaranya bahkan tak sampai menetas. Tapi karena jumlahnya banyak, maka yang sisa itu akan sanggup hidup. Lalu mencari makan diantara ikan-kan lapar lainnya. Dan semakin jauh dari tepian laut, maka kemungkinan hidup semakin besar. Sebab kalau dekat, maka air juga akan dengan segera menyeretnya masuk ke air laut yang karakternya berbeda. Selain berbeda rasa, suhu dan kedalaman juga sangat mempengaruhi buat si kecil. Kalau salmon memang hidup diantara dua rasa tersebut. Dimana jika besar akan tinggal di air asin. Tapi kalau jenis gabus atau lele, yang tak bisa beradaptasi dengan air berkadar garam tinggi, maka ia akan mati dengan segera. Makanya sebisa mungkin mereka tak sampai menjangkau muara yang langsung menenggelamkannya ke dalam sebuah kepedihan.


__ADS_2