
Main catur main pion
Susah diatur jadi bloon
“Cepak lah... lama kali pun!”
“Sabar dong,“ kata Antony sembari maju mundur maju mundur. Tak jadi meletakkan bidaknya ke papan bergaris itu. Sangat susah untuk bermain cepat permainan ini. Apa-apa mesti dipikir. Namun enjoy. Semua pikiran tentang uang, hutang, keperluan rumah tangga, jadi hilang. Gara-gara memikirkan permainan yang mesti dipikir itu. Dengan demikian ada masa tenang untuk tak memikirkan satu kebutuhan pokok tersebut. Sehingga tak jarang orang-orang menyempatkan diri untuk membuang waktunya demi melupakan segala sesuatu yang membuat kepalanya memberat tadi. Dan semua jadi hilang berganti dengan rasa pusing memikirkan catur. Belum lagi kalau kalah. Maka akan semakin kecanduan. Dimana ingin main lagi dan lagi sampai bisa memenangkan satu permainan berat yang mesti mengangkat-angkat gajah, kuda, benteng bahkan se pion. Kalau mengangkat queen sih enak. Tapi itulah permainan yang enak main angkat. Jangankan main, mengangkat beras satu karung juga enak. Bisa makan besar. Atau mengangkat tangan yang tak perlu berfikir. Sedangkan main catur mesti berfikir dengan penuh konsentrasi. Dimana mesti melangkah. Harus membiarkan diri diam. Atau mesti lebih keras memutar otaknya. Agar perputaran permainannya juga asik.
“Antony! Lu dicari yth bapak guru,“ ujar si Scopio memberi tahu sembari membuyarkan konsentrasi bermainnya. Dia datang dengan tergesa-gesa dan sembari takut-takut. Memperhatikan kalau-kalau ada yang mengejarnya.
“Wah itu guru ilmu gaib apa ilmu pengetahuan sihir. Kok mencari-cari gua,“ ujar Antony masih terus ingin melanjutkan permainannya.
__ADS_1
“Itu Pak Comodus. Seperti biasa.“ Terang si Scopio.
“Kenapa Kah? Apa dia sudah tak brewokan lagi?“
“Memangnya kaisar yang harus punya brewok?“
“Terus?“
“Kubilang kau yang selalu menceburkan Si Kleo ke comberan.“
“Kan lu yang paling disayang sama guru killer itu. Kalau gua yang ngaku, bisa-bisa langsung di keluarkan aku.“
__ADS_1
“Dasar item!“
“Loh item, kayak batu kali dong. Kok lu ngatain gue batu kali sih!“
“Opo… Opo… Oppo….”
“Lu ngajak… Ngajak…“ Sangat mangkel si Scopio. “Yuk sembunyi yuk. Daripada disini terus entar ketahuan lu.“
“Sebentar tapi aku menyelesaikan catur ini yang tinggal selangkah lagi aku menang. Lihat pion ku sudah mau memakan king dia,“ ujar Antony masih saying padahal mestinya bisa memenangkan pertarungan kali ini yang begitu fenomenal. Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Iya kalau lagi pas ingin berpikir. Atau pikirannya lagi mood. Kalau kacau, atau bahkan tengah memikirkan hal lain. Semisal pacar, maka akan sulit konsentrasi ke permainan yang menjelang kata menang itu.
“Mana bisa pion makan raja.“
__ADS_1
“Sudah lah tinggal saja. Ketahuan kau nanti. Bakalan digantung kau nanti di bawah pohon cimplukan,“ ujar Scopio menakut-nakuti, agar supaya si Antony lekas-lekas meninggalkan daerah rawan bencana itu. Ini demi kebaikan semua. Kalau sampai tertangkap, ditemukan, maka semua akan terbongkar. Dan bisa saja berbuah celaka bagi yang terlibat dalam lingkaran kasus mengerikan tersebut.
“Wah dimana lagi aku harus sembunyi. Sementara semua tempat sudah kepakai dan pasti ketahuan sama dia?” ujar Antony kebingungan. Mungkin di WC. Sudah pasti semua guru akan mencari ke tempat yang aneh itu kalau ada yang punya kasus demikian. Atau di kantin. Sama juga. Meskipun pada diam. Tapi mesti ketahuan kalau murid nongkrong untuk beli makanan, terus ngumpet di dapur dan langsung di ciduk. Dikira sedang memasak.