Senja Muram

Senja Muram
Buah


__ADS_3

“Ngapain?“


“Menghias sepeda.“


“Halah nggak jadi.“


“Lo gimana sih?“


“Masih lama.“


Kegiatan itu dihentikan. Karena tinggal mengelap saja. Ini bukan karnaval yang mesti menghias sepedanya pakai warna-warni, kertas yang banyak, serta hiasannya yang begitu unik. Ini hanya supaya bisa ikut lomba. Dan bisa melanjutkan kegiatan itu tanpa rintangan. Juga bukan balap. Jadi asal indah serta bisa sehat dengan kriteria penilaian yang khusus di buat oleh panitia. Jadi belum tentu yang mahal akan menang, atau yang aneh, serta kuat, bukan begitu. Khusus pokoknya.


“Terus…“


“Jalan-Jalan saja yuk?“


Itulah akhirnya, supaya tak jenuh mengelus-elus sepeda begituan, maka mesti ada acara lain yang lumayan untuk tak dilewatkan. Maka jalan-jalan menjadi solusi yang lumayan penghilang stress.

__ADS_1


“Kemana?“


“Kebon Durian.”


“Yang gede itu.“


“Hooh. Kali saja kita nanti dapat.“


Sekarang buah-buahan banyak yang ditanam. Dengan perawatan yang jelas, akan bisa membuahkan hasil yang maksimal. Sebenarnya tak hanya itu. Ada strawberry, kelengkeng, juga cempedak. Buah-buah mahal itu sekarang tumbuh dimana-mana. Jadi harganya terjangkau. Namun ya itu, petani jadi kurang maksimal memetik keuntungan. Akibat murah. Kalau mau dijual mahal tidak laku.


“Masa gitu.“


“Oke.“


Perjalanan mereka memakan waktu satu jam.


Itu juga kalau di simpang tidak macet.

__ADS_1


Sama di perlintasan KA.


“Lah gimana?“


“Kita seak - seok saja lewat diantara kendaraan besar.“ Biasa untuk memburu waktu memang begitu. Memang ada resikonya juga. Terkadang saling senggol. Kalau tidak untuk yang kendaraan kecil, bisa saja kaca spion nya kena, patah. Disuruh mengganti. Tidak mau. Rebut. Karena memang jalanan demikian macet. Tidak bisa saling mendahului. Terutama bus atau truk yang memang harus lewat situ. Karena besarnya sehingga menghabiskan badan jalan. Untuk yang roda dua mendingan. Ya itu saling meliuk diantara sela-sela kendaraan besar tadi. Karena bisa jadi satu lintasan itu untuk lima menit mesti di lalui oleh satu kereta, satu sepur. Itu yang membuat kemacetan bertambah parah. Sudah jalur ramai. Juga saling kebut. Memburu waktu. Itu yang jadi pokok masalahnya. Sehingga sulit dipecahkan.


“O gitu.“


Mereka terus jalan.


Tak berapa lama kemudian, sampailah mereka di kebun yang dimaksud.


Ada yang sangat besar. Lagi pula rendah. Dan di daerah itu aman tenteram. Tidak ada yang main gasak. Sehingga sampai matang akan bisa menikmati keasyikannya. Mereka sama-sama tahu. Serta tak perlu main ambil barang orang, kalau di rumah sendiri juga punya. Sehingga saat panen, akan saling memiliki. Sebab buah itu mahal harganya. Karena nikmat. Hampir semua orang suka. Yang tidak suka itu karena alergi saja. Dan karena saling memiliki itulah, maka untuk buah demikian tak ingin memilikinya sendiri. Jadi bisa tumbuh kembang hingga masak. Atau kalau tak punya akan diberi nantinya. Sekedar mencicipi. Namanya mencicipi, jika itu segede durian, satu saja nggak habis. Apalagi kalau tak suka baunya, maka hanya akan main lihat saja. Namun sudah puas untuk mempunyai buah yang besar serta mahal begitu. Kalau tak punya maka akan me;lihat yang gede-gede itu sembari di foto, terus di upload ke sosmed nya. Dan di pamerkan dengan tulisan yang unik-unik.


“Nah itu gede - gede.“ Mereka masuk, melihat-lihat, lalu berfoto-foto.


“Sayang belum masak.“

__ADS_1


“Yah… yang mateng nggak ada?“


“Tak.“


__ADS_2