
“Dari mana ini?“ tanya si kawan itu.
“Habis nonton,“ jawab Antony.
__ADS_1
“O. Ayo… mumpung kita lagi syukuran. Nggak mesti ada lo,“ ujar orang itu seraya menawari makan yang lezat-lezat dan sangat berselera tersebut. Pada tiap tumpeng tersebut di hias warna-warni dengan makanan dari berbagai bentuk. Serta di iringi dengan doa-doa sebagai wujud syukur akan sesuatu yang tengah mereka rayakan ini. Bisa jadi panen yang hasilnya melimpah, diangkat menjadi pegawai yang posisi nya menggiurkan, atau juga atas keselamatan akibat suatu sebab, bisa bahaya atau penyakit dan pageblug yang lain. Semua itu di ambil untuk suatu ujud ungkapan rasa syukur yang di tujukan bagi yang kuasa.
“Ya lah gimana lagi. Ini juga ada undangan kita makan-makan di rumah makan ikan bakar selatan jalan itu,“ jelas Antony yang bicara kalau saat itu mesti pulang dulu untuk mempersiapkan segala sesuatu akan perjalanan panjang di acara tersebut. Jadi tak harus serampangan. Atau tak mesti membiarkan bahwa semua itu berjalan apa adanya tanpa hal lain yang demikian baik untuk bisa di lakukan dengan lebih tertata. Juga sebagai alasan agar bisa sedikit menghargai buat yang mengajak. Karena si pengajak juga tahu, kalau semua sekedar basa basi. Tak selamanya yang diungkapkan dengan rendah hati itu suatu hal yang sebetulnya. Karena unggah-ungguh dalam bermasyarakat begitu. Dimana bumi di pijak, langit di junjung. Dalam komunitas bermasyarakat tersebut orang akan menghargai jika unggah-ungguh itu bisa tertanam baik dalam perilaku masyarakatnya. Makanya walau sangat suka, mesti bilang demikian, karena orang-orang tersebut juga sudah paham akan kebiasaan tersebut. Berbeda dengan mungkin orang dengan kebiasaan apa adanya, jika ya bilang iya, tidak juga mesti bicara tidak. Karena merasa hal tersebut sangat jujur. Jadi sesuai dengan kondisi badan. Lapar bilang lapar, kenyang juga di ungkapkan. Maka hal tersebut akan menjadi kentara buat orang lain yang paham akan kejujuran nya itu. Namun menjadi hal yang kurang baik buat masyarakat yang sudah terlanjur memahami bahwa hal itu kurang memahami tata karma. Sehingga tak jarang kalau melihat orang itu akan langsung menutup pintu sebagai pertanda jika dia tak suka.
__ADS_1
“Kapan?“
“Masih lama itu. Bisa menunggu lapar lagi.“
__ADS_1
“Oke.“
Merekapun ikut makan. Di ambilnya nasi tumpeng kuning yang ujung kerucut nya diambil sama yang tua. Baru yang lain ikut gabung. Diambilnya dua paha ayam bakar yang berdaging lezat itu. Juga telor satu biji yang utuh. Kemudian ada juga ikan asin. Urab kluban, serta sambal yang menggairahkan. Nasi diambil banyak-banyak. Soalnya tumpengnya juga ada tiga. Jangan sampai nggak habis. Sayang.
__ADS_1