
“Mulai dari mana ini?“ ujar Si Claudia setelah melakukan pendaratan dari sungai menuju kampung terakhir sebelum masuk ke hutan lindung. Dermaganya kecil saja. Hanya cukup untuk menambatkan perahu. Paling besar jenis compreng yang tak perlu cadik. Selepas dari dermaga, sudah tak ada orang. Dan langsung masuk pada pemukiman penduduk. Yang kala itu sunyi sepi. Mereka-mereka ini mestinya sudah menuju ladang atau sungai sesuai dengan pekerjaannya.
“Tanya-tanya dulu dong.“
“Sama siapa?“
“Orang lah.“
Mereka terus berjalan dan mencari kalau-kalau ada orang yang paham akan masalah mereka.
__ADS_1
“Tuh orang baru pulang dari ladang kayaknya. Bawa pacul habis kebun kali.“
Sama orang itu mereka tanya. Orang itu diam saja. Dia yang hanya membawa cangkul. Dan pada pikulannya ada semacam hasil panen meskipun sedikit. Ada pisang, papaya, nangka, kebanyakan buah-buahan.
Orang itu tak mengerti.
“Bapak… bapak tahu?“ ujar Claudia mencoba menanyakan keberadaan Kleo dan teman-temannya yang tengah melakukan suatu ekspedisi aneh nya di hari yang aneh juga itu. Maklum liburan, dan anak-anak tak ada kegiatan, makanya mencari-cari segala, supaya tak jenuh hanya berkecimpung dengan tugasnya, belajar dan belajar, serta glundang-glundung memegang HP. Sehingga ana-anak yang kreatif itu berusaha mencari kegiatan. Dan untuk yang kali ini ada beberapa masalah yang berikutnya mesti menyeret mereka guna membantu sebuah kesulitan. Kalau belum ketahuan keberadaannya, maka tentu saja orang-orang rumah akan cemas. Banyak timbul pertanyaan nantinya. Jangan-jangan mereka terjebak di suatu rumput yang tinggi, atau justru masuk ke sebuah lubang menganga yang dalam. Bisa juga mengalami kecelakaan di hutan yang berbatasan langsung dengan laut lepas itu.
Dan terakhir mereka tanya pada seseorang yang tengah memperbaiki jembatan.
__ADS_1
“Bapak… bapak sedang apa? “
“Ini katanya suruh memperbaiki jembatan. Tidak tahunya membuat lubang. “
“Tahu tidak dengan teman kami? “
Dia beberapa hari disitu. Tapi tak melihat kedatangan orang. Katanya, biasanya banyak orang yang menuju hutan. Orang-orang dari kota. Atau tempat yang tak mereka kenali. Tapi dia tak memperhatikan siapa-siapa yang melintas itu. Mungkin karena pas asik dengan pekerjaannya. Atau tengah pulang dulu untuk mencari makan. Walau sampai sore, biasanya dia tak diijinkan pulang. Karena akan ada kiriman makan dari orang. Jadi itulah. Barangkali saja teman-teman mereka melintas pas orang itu tak melihat akibat pergi sebentar atau tengah istirahat pada sebuah lokasi yang teduh. Sehingga tak memperhatikan jalanan setapak yang tak begitu lebar, namun dibuat meninggi, akibat lokasi sekitarnya yang lumayan dalam akibat genangan air yang terus dating, bisa akibat banjir atau akibat permukaan air yang naik gejala alam yang membuat air pasang.
“Semua tak ngerti. sama siapa lagi ini?“ si Claudia kebingungan. Tapi itu baru awal. Masih banyak waktu dan kesempatan untuk memulai hal baru. Dan semua akan terjawab untuk beberapa langkah ke depan. Dimana masih banyak sumber dan keterangan alias suket yang mesti di lacak kebenarannya.
__ADS_1