
“Lo disini,“ ujar si Claudia yang menemukan teman nya sedang asik dengan kegiatan baru yang ada-ada saja itu. Dia sudah lama mencari. Mulai dari rumah, tanya tetangga sebelah, teman-temannya, mengecek di WA atau di IG nya lalu meneliti tiap medsos yang ada nama si Antony, bahkan terakhir sampai tanya nenek Senja, semua tak ada jawaban. Makanya dia telepon berkali-kali, dan berdering nya tentu keras dengan nada panggil yang seperti ayam tercekik itu. Pun tetap tak terjawab. Hingga mencari denyut sinyal dan penelusuran lewat GPS barulah kisi-kisi lokasi nya terdeteksi.
“Ngapain disini?“
“Ngapain kemari?“ tanya Antony yang nggak terkejut-kejut amat melihat rekannya punya rekan ini dating tak diundang pergi mencari-cari keberadaannya. Itu semua tentu saja hanya ingin sekedar bertemu, lalu jalan-jalan mencari apa yang perlu dicari menunggu apa yang ditunggu, walau semua itu palsu. Hanya sekedar bersenang-senang. Ibarat kata rebut balung tanpa isi. Sekedar membuang waktu tanpa mendapat apa-apa. Beda dengan sekarang, jelas-jelas ada yang dikerjakannya. Ada usaha, maka kemungkinan memperoleh hasil akan di dapat. Jadi tanpa usaha tentu tak dapat apa-apa. Ibarat kata tangan terbuka akan mendapat dibandingkan tangan yang telungkup. Atau bergerak akan lebih banyak menghasilkan dari pada hanya tidur di tempat tiduran.
“Ini membantu si Kleo,“ jelas Antony menjelaskan daripada terjadi kesimpang siuran berita, dan ketidak jelasan makna dalam mengartikan untuk apa dia berada disitu dan hanya menanggung rasa capek dan gundah gulana diantara segala keramaian yang tercipta pada jalanan raya yang demikian ramai itu.
“Anak dari ibu kota baru itu?“
“Lo gimana ini mengartikannya?“ Antony kebingungan.
__ADS_1
“Jualan apa?“
“Ini kue,“ ujar Antony. Sangat laris. Soalnya dalam berjualan sedikit aneh. Mereka membawa kue-kue itu dalam sebuah kendaraan box. Yang sudah dibuat matang dari rumah. Dan dalam suatu pengepakan yang begitu manis. Dijualnya dengan harga murah. Cukup ceban saja. Biasanya kue-kue seperti itu dan sudah punya merk terkenal akan dijual senilai 25 ribu doang. Tapi ini spesial katanya. Sehingga harga segitu cukuplah sudah. Meskipun rasanya tak begitu meyakinkan, tapi dianggap mirip-mirip. Asal tak memakai brand ternama, maka tak banyak yang memprotes. Lagipula segala sesuatu yang dikerjakan itu hanya sekedar memanfaatkan waktu dan situasi yang ada.
“Kue apa bubur kok gini“
“Bubur ayam ya nggak gini.“
“Dasar S2 lu!“
“Apa tuh?“
__ADS_1
“Sok Sekali.“
“Lu yang D3.“
“Datang, Duduk, Diam, Duit dan maDang. Gitu ya?“ tebak si Antony.
“Bukan lah!“
“Jadi?“
“Dalem Dalam Dicara,“ ujar Claudia.
__ADS_1
“Bicara kan?“