Senja Muram

Senja Muram
Nonton 2


__ADS_3

“Ini baru mulai…“


“Yah masih awal. Yuk nyari jajan dulu,“ kata Antoni. Biasanya kalau mau mulai pada melihat-lihat jajanan dulu. Sebab masih lama. Dimana masih banyak sambutan. Belum lagi kalau jejer, pasti akan membosankan. Terutama buat anak muda. Mereka terkadang baru dating malam-malam. Atau pada saat sudah mulai ramai. Makanya untuk menghalau kejenuhan, terkadang pihak dalang mengadakan tari-tarian. Semacam lengger. Supaya sudah mulai ada hiburan. Namun kalau belum, maka hanya gending saja yang mengalun. Ibarat irama lokananta yang ditabuh para dewa. Disinilah sangat ramai jajanan mulai dari sepanjang jalan sampai dengan lapangan terbuka yang sengaja dipakai untuk parkir sama tempat jajan.


“Mau lihat, apa jajan!“


“Ya sekalian.“ Mereka terus melihat-lihat yang pada berjualan mendadak. Banyak sekali makanan juga ada yang menjual pipa rokok dengan berbagai harga. Blangkon dengan ukuran bagus sekaligus peang. Juga beskap dan pakaian lain yang mahal-mahal.


“Biar tak kelaparan…”


“Ya ayo beli bakso.“


“Nonton wayang itu kacang atau minum es. Seger tuh.“


“Bilang aja nggak ada duit.“


“Eh nonton wayang begitu.“


“Ya lah.“

__ADS_1


Mereka hanya membeli itu.


Kacang dengan conthong kertas koran bekas, dan minumnya es yang dibungkus plastik. Memegang nya mesti es tangan kiri dan makanan yang kanan. Biar mudah meminumnya.


“Nah kembali ke tempat semula.“


“Waduh…. Sudah penuh.“ Tempat yang tadi mereka duduki, sudah dipakai orang. Maklum yang nonton banyak. Membuat jika ada celah sedikit saja langsung dipenuhi. Biar taka da ruang sela, sekaligus memudahkan menonton pertunjukan.


“Nah sini saja.“


“Yah… gue kalingan.“


“Penuh ini. “


Terus yang datang silih berganti. Apalagi ramai. Suasana panas. Yang kena kipas hanya penayagan sama sinden. Karena keringatan habis menari lengger. Jadi kipas saja tak cukup. Bedak sampai luntur. Dan gincu berdleweran, jika tak di tata ulang. Makanya mesti memakai kaca terus menerus untuk melihat muka. Akar yang menonton tak kecewa. Yang di atas tak malu. Itu sudah biasa mereka lakukan. Sehingga hafal.


“Wah lapar lagi.“


“Apa kita makan di belakang panggung?“

__ADS_1


“Memang boleh.“


“Ya kalau masih ada, boleh kita ikut nimbrung. Ini kan selamatan desa yang ada juga dari kita, oleh kita dan untuk kita tonton hiburannya. “


“Malu tapi…“


“Itu kalau mau. Kalau tidak ya nonton saja. Memang banyak yang minta karena porsinya juga banyak. Dan memasaknya untuk satu kampung.“ Mereka berusaha mencari celah diantara penonton yang memadati pelataran balai itu. Yang sungguh sulit untuk melintas hingga ke pintu ruang utama. Itu untuk lewat saja, belum kalau sampai di lokasi makan. Yang pasti lebih padat lagi. Saling berebut untuk meminta.


“Lo kamu di sini.“


“Eh kamu nonton.“


“Iya mumpung ada,“ kata de la Cruz yang ikut menggabung di situ. Dan ikut saling berdesakan. Walau tak boleh terlampau dekat.


“Sudah makan lu.“


“Belum. Mau makan. Tapi ramai. Malu. “


“Ya sudah nonton saja sampai akhir. “

__ADS_1


Sampai tancep kayon. Kayon yang gunungan. Tertancapnya batang kayu pada sebuah tempat lembut, batang pisang, gedebog belum busuk. Artinya batang baru yang dipetik dan dipilih yang terbaik, agar mudah menancap wayang. Sehingga beberan kisah pada sebuah beber, atau kain putih itu, terbentang jelas. Yang mengakhiri cerita wayang di malam itu.


__ADS_2