
“Wah gimana nih, Aku ingin?“ ujar si Claudia yang merasa sudah dating jauh-jauh, tapi tak juga diberi salah satu pun. Memang tak ada. Kalaupun ada masih muda. Belum layak sentuh. Artinya walau dimakan juga tak enak. Mendingan begitu, apalagi kalau yang sudah menjelang busuk. Ada rasa sedikit pahitnya. Namun itu buah yang memiliki aroma aneh. Makanya teradang orang menyukai yang demikian. Menunggu hingga sangat matang. Namanya juga orang seleranya macam-macam. Belum lagi kalau yang tak punya rasa, maka akan selalu menikmati saja apa yang ada. Tak perduli soal bagaimana itu nanti. Asal bisa dimakan langsung main telan saja. Juga bisa dicampur dengan minuman. Yang demikian menggoda kerongkongan. Itu sudah cukup pengganti haus. Tak seperti sekarang ini. Mana jauh, juga jalan-jalan capek, karena mesti luas tanah buat pohon itu. Supaya tumbuhnya tidak terhalang, juga mesti bersih dalam penggarapannya. Maka hasilnya maksimal. Itu juga yang membuat capek.
“Kayak gimana aja. Entar…“
Mereka terus jalan. Melewati sungai yang besar. Gunung yang tinggi. Serta melihat ada bus yang goyang-goyang di sebuah simpang kereta karena per nya begitu lentur, namun para penumpangnya ramai.
“Nah tuh ada.“
“Wih dipinggir Jalan.“
“Kalau lagi panen, banyak penjual yang begini.“
“Terkadang cuma di warung biasa, di toko, Juga biasanya hanya dengan mobil saja.“ Memang kalau namanya bisnis semua bisa dilakukan. Dikerjakan. Sehingga durian yang lumayan berharga itu menjadi salah satu alat bisnis yang menjanjikan. Makanya selama tingkat kelakuannya pada satu titik tak memadai, maka akan dicari bagaimana supaya benda tersebut bisa terjual.
“O.“
__ADS_1
“Yuk…“
“Ini besar.“
“Mahal 65.“
Dibagi tiga kategori.
65,30, sama kiloan.
“Kalau sampai empat kilo lumayan kan tinggal kalikan empat.“
“Ya sudah beli yang 30.“
“Lo bagaimana sih?“ tanya. Dikira mau yang kiloan. Gede. Satunya bisa empat, lima kilo. Itu lumayan menguras kantong memang. Tapi karena memang sangat nikmat, maka harga segitu bukan apa-apa. Karena mengadakannya juga jauh. Serta alat transportasinya mesti yang bagus juga. Sehingga tidak rusak saat sampai. Maklum perjalanan begitu terkadang banyak kendalanya. Jadi akan bisa merusak kualitas buah. Selain itu cuaca juga mempengaruhi. Dingin, panas. Akan membawa rasa pada buah. Juga adanya air, saat hujan, atau terlampau panas juga membuat buah yang sudah diambil dari pohon akan membuat dia eror.
__ADS_1
“Ini berapa?“
“30.“
“Kurangi.“
“25 dah.“
“Udah kecil nawar lagi.“ Heran memang. Tabiat sudah demikian. Makanya tidak heran kalau di pasar-pasar akan dinaikkan harga awal sampai 2 kali lipat. Agar kalau di tawar sudah untung. Sebab kalau tidak, sudah murah masih pakai nawar lagi. Karena pemikiran si pembeli, harga demikian sudah di lipat gandakan. Makanya sebisa mungkin menawar. Atau merasa kalau harga tersebut masih bisa dikurangi sehingga kantong tak terasa kala mesti dikuras pelan-pelan.
“Daripada nggak habis kan?“
“Huh…“
Mereka makan juga. Meskipun lokal tapi rasanya tetap durian. Tak tergantikan. Begitulah kalau suka, tak memandang sesuatu yang jauh atau dekat. Luar atau dalam. Asalkan sudah berasa, maka akan dinikmati juga.
__ADS_1