Senja Muram

Senja Muram
Nonton 13


__ADS_3

“Aduh sakit leherku.“


“Hehe...“


“Mendongak terus.“


“Yang penting kesampaian. Dah lega kan?“


Begitulah asiknya kalau sudah mencapai apa yang diinginkan. Dan itu membuat segala impian seakan kesampaian.


“Yuk pulang.“


“Tapi parkirnya jauh banget.“


“Iya terakhiran kita. Dah penuh tadi.“ Begitulah yang sedikit jengah. Karena lumayan jauh jaraknya. Itu yang membuat enggan. Mana habis hujan lagi. Bertambah dingin suasana. Dan kepala bisa sedikit pusing manakala rintik hujan membasahi kepala.


“Makan dulu yuk.“

__ADS_1


“Boleh.“


“Tuh lihat mengantri.“


“Bagaimana nih.“


“Beli air minum saja.“


“Sama roti nih.“


Itu yang mereka beli pada suatu gerai.


“Wah. Kan tempat duduk nggak ada. Mana kalau makan wajib duduk lagi.“ Wajib duduk jika ingin makan. Ini tentu supaya tak mengganggu orang yang tengah sibuk. Baik uma berkunjung maupun mesti melakukan tugasnya. Juga karena hari ini begitu padat penduduk. Orang-orang satu kota seakan tengah menginginkan melihat-lihat isi pertokoan dalam mall ini. Dimana sebelumnya seakan tak boleh keluar. Juga hiburan komplit untuk satu kota hanya di tempat ini.


“Bagaimana lagi nyelempet di pojok saja. Mumpung ada tempat kosong.“ Disitu mereka duduk. Ada dua tempat duduk yang kosong di dinding yang menempel. Itu juga yang lumayan lega. Maklum untuk semua tempat ada oangnya. Sebenarnya kalau untuk satu dua kursi masih ada. Karena untuk satu kelompok kursi yang ada empat, terkadang baru terisi dua atau tiga. Jadi masih ada yang luang. Namun perasaan tak enak seakan menjalar. Karena kurang saling kenal saja. Disitu di makannya roti dan minum es teh.


“Nah kita pulang.“

__ADS_1


Setelah jalan lumayan panjang menuju ke parkiran motor. Mereka memakai jas hujan.


Walau hanya hujan sebentar. Dan itu langsung terang. Namun sedikit licin. Mesti hati-hati. Jangan sampai tergelincir. Apalagi saat melewati di samping kendaraan besar. Bisa saja akan jadi celaka kalau itu bukan suatu keberuntungan.


“Macet lagi kita.“


Menjelang jembatan. Disini lumayan panjang. Mesti selap - selip lagi. Namanya juga saling berebut. Disini keluar semua. Menjelang malam. Dimana orang yang sudah asik berkunjung ke lokasi wisata sudah menjangkau tempat itu. Orang-orang yang sebelumnya saling senang karea bisa kumpul keluarga,, terus membawanya wisata dan makan-makanan nikmat. Kini mesti istirahat. Makanya tak jarang hanya sopir saja yang terjaga. Orang-orang itu pada terlelap dalam mobil nyamannya.


Pada suatu simpang empat sebelum jembatan, disini macet. Itu juga sumber kemacetan mengular yang telah mereka lewati tadi.


Baru setelah jembatan lancar. Mereka bisa jalan dengan kenang. Agar sampai rumah tidak terlampau malam.


Sama sebelum rel. Namun tak terlampau panjang. Paling hanya beberapa ratus meter saja. Karena kendaraan masih banyak yang sebelum jembatan tadi.


Perjalanan kembali lancar. Hingga sampai di pertigaan. Lampu merah seakan tak terpakai. Lebih percaya sama petugas. Karena banyak sekali kendaraan yang ada di situ. Mengular seperti saat keberangkatan tadi. Hingga ke hutan panjangnya. Dan itu satu kilo lebih. Maklum orang-orang kota juga tengah melewati daerah itu untuk berkunjung ke desa, atau kembali ke rumah masa kecilnya.


Sehabis rel hujan deras. Bagaikan tercurah dari langit airnya. Untung jas hujan masih terpakai. Jadi jam di tangan juga tak sampai kebasahan. Namun suasana bertambah mencekam. Licin, dan dingin.

__ADS_1


Setelah mengisi bensin baru sampai rumah.


__ADS_2