
“Haha….“
Claudia pulang berbarengan dengan teman-teman. Biasa kalau lagi rombongan begitu. Cerita sana sini, tentang sesuatu yang tidak-tidak, dan ramai memperbincangkan sesuatu yang mungkin dan tak mungkin. Ramai sekali pokoknya. Semua menikmati satu perjalanan membosankan yang dilalui dari hari ke hari. Sehingga supaya tak bosan melakukan hal aneh yang antaranya ngobrol ngalor ngidul seraya menutupi bahu jalan.
“Sebentar…“
Dia melihat pada suatu rumah makan. Nampak ada yang aneh. Rumah makan itu tengah ramai oleh pengunjung. Jam segini, pas banyak-banyaknya anak sekolah pulang, sudah jelas di luaran sana, pada tempat selain sekolah, juga perut mereka setara untuk waktu yang tepat buat mengisi nya.
“Kalian pulang dulu. Aku mau mampir.“ Claudia membelok ke rumah makan itu.
“Nah… Kamu rupanya.“
__ADS_1
“Apa?“ ujar Antony yang asik saja menghabiskan pesanannya yang demikian banyak. Maklum lapar, habis mengantuk yang tak bisa lelap karena bukan di kamar. Dengan demikian bisa melalaikan yang satu itu.
“Makan sendiri, nggak ngajak – ngajak.“
“Kemarin kan sudah ku belikan mie sama es campur,“ ujar Antony terus saja makan. Masa lagi asik-asik menghabiskan lalapan mesti mengajak, kan nggak ingat. Lebih baik menelan yang tinggal sedikit itu, agar bisa cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut serta pengeluaran tak terlampau banyak nantinya. Kalau disitu terus melihat yang enak-enak, maka akan terus ingin menambah, dan perut itu seakan tak ada penuh-penuhnya untuk selalu minta di isi dan di isi dengan yang lezat-lezat tadi.
“Perhitungan lu!“ ujar Claudia sembari mengambil rendang dan memakannya. Masa begitu saja di ingat-ingat. Benar-benar anak yang sulit melupakan. Untung habis, kalau tidak bakalan diminta tuh. Tapi ya sudah sekarang beda tempat beda acara. Yang lalu taka da dan kini hanya ini yang Nampak, maka diambilnya sedikit. Itu sudah lebih dari asik untuk mengganjal perut keroncongan akibat mengikuti pemadatan materi yang semakin lama semakin rumit dan membikin pusing kepala sampai tujuh keliling.
“Bang minta satu,“ ujar Claudia yang sulit menjangkau makanan si Antony yang di seret menjauh. Untung pegawainya cekatan. Dengan piring yang dibawa berbarengan serta berjejer di lengannya tanpa tumpah, membuat satu kali perjalanan sudah bisa diatasi semua. Disitu selain rendang ada sate, cincang serta ayam bakar. Karena pesannya porsi an maka yang keluar hanya yang diminta saja. Nanti kalau mau menambah pesan lagi. Tapi karena pengiritan yang tersedia hanya kerupuk yang dibiarkan terhampar di meja.
“Enak ya…“
__ADS_1
“Ya.“
Habis satu porsi. Pelan-pelan, sambal nyeruput es teh segar manis. Serta di jejali kerupuk yang renyah. Membuat sisa waktu itu berjalan seiring cepat masuknya makanan tersebut.
“Bang minta lagi.“
Claudia menghabiskan nya lagi. Maklum makanan dengan kuah cepat sekali bisa di cerna. Membuat tak kerepotan mengunyahnya. Hanya cepat atau lambat saja, dan cukup atau tidak tempatnya.
Semua dibayari sama Antony. Lagi banyak duit kali dia. Dikasih uang saku sama mami papinya dobel kali, makanya ada sisa untuk menjajakan pacar nya itu. Belum lagi nanti kalau pingin mampir ke tempat menjual kerang saos tiram, tentu akan mengeluarkannya lagi dari dompet tebalnya.
Setelah kenyang, baru mereka pulang. Claudia diantar berboncengan dengan motor Antony.
__ADS_1