
“Nah mulai ramai nih.“ Mereka kembali menonton. Disana sudah mulai banyak yang berteriak-teriak. Ada yang dari pemain tersebut, atau orang-orang tua dari penonton yang ikut kemasukan. Biasanya mereka hanya kemasukan saja walau Cuma menonton, karena itu orang dari kelompok lain yang juga biasa main begituan. Makanya saat klub lain tengah main dan kemasukan, dia juga ikut kena.
“Wah banyak yang kesurupan.“ Biasanya dari mereka langsung jatuh tak sadarkan diri. Lalu sama penimbul di usap mukanya, kemudian bangkit dan menari mengikuti irama gamelan. Disaat itu para penari berhenti. Membiarkan yang kesurupan untuk makan. Mereka biasanya minta yang aneh-aneh. Baik itu kembang, pisang yang sangat banyak, atau kelapa muda yang di lempar ke atas untuk kemudian di pecah dengan kepala, lalu pecahan itu di minum airnya dan diambil isi yang nikmat tersebut.
Makan beling. Mereka meminta pecahan kaca, baik itu gelas, ataupun torong, penutup api pada dian lampu minyak. Lalu dikunyah dengan sadis. Dan ditelan dengan enaknya seperti makan kerupuk yang renyah. Barulah minum dengan air yang mesti banyak. Makanya diambil satu ember.
Naik-naik pohon. Dengan sangat cepat. Di atas dia main-main sambal menjerit-jerit. Memutar-mutar kain sampai melambai seperti bendera. Dan berdiri dengan tegak. Lalu turun juga sangat cepat. Bahkan kepala di bawah seperti monyet. Makanya mereka menyebutnya kerasukan monyet.
Bahkan ada yang masuk ke sebuah kurungan. Dan saat keluar telah berubah bentuk. Pada awalnya dia hanya berpakaian biasa saja seperti penari kebanyakan. Kemudian jatuh serta kemasukan. Lalu oleh penimbul di sediakan suatu kurungan ayam besar yang biasa buat tempat jago saat tengah di jemur atau mau di adu. Kurungan besar itu di selubung i kain gelap, sehingga tak mampu mata menembus ke dalamnya. Lalu di kasih sesajian serta aroma kemenyan yang di bakar. Sehingga para roh akan di panggil untuk masuk ke jiwa penari tersebut. Berikutnya sang penari masuk dengan tangan terikat ke belakang. Dan kurungan di angkat oleh penimbul dengan pakaian dan sesaji yang ikut dimasukkan ke dalamnya. Lalu tak berapa lama sudah dibuka kurungan itu oleh sang dukun. Dia keluar dengan tangan masih terikat, tapi pakaian telah berganti. Dengan dandanan wanita yang cantik. Sementara baju penari nya terserak dalam kurungan tersebut. Berikutnya dia keluar serta menari lenggak-lenggok mengikuti suara gamelan ringkas yang bunyinya begitu -begitu saja.
__ADS_1
“Hii….“ Tiba-tiba Claudia bergidig.
“Kenapa?“
“Itu ada yang menatapku dengan tak berkedip,“ ujar Claudia seram. Nampak seseorang dengan muka seram yang tengah kemasukan, dengan sorot mata yang tajam dan di lebar-lebarkan sampai memerah terus menatap tanpa kedip sama cewek ayu yang mulai menutup diri agar tak menatapnya seraya ketakutan.
“Kenapa?“
“Hehe…“ Antony hanya mengekeh.
__ADS_1
Berikutnya, nampak sudah mulai banyak yang sembuh. Menurut mereka, roh sudah kembali ke rumahnya. Hari menjelang sore. Dan satu demi satu para kesurupan itu sudah pulih. Ada yang tak mau pulang-pulang, lalu ditanya mau minta apa, biasanya makan kesukaan mereka. Baik itu bunga, kemenyan, atau kopi pahit dengan aroma melati. Setelah permintaannya di turuti, baru mereka bersedia pulang ke rumahnya di alam roh, serta dengan iringan music terakhir, sebelum mereka njejek-njejek akhirnya di usap mukanya oleh penimbul untuk pulih kesadarannya. Dan duduk dengan lemas.
“Yuk pulang.“
“Belum selesai.“
“Tinggal sedikit itu.“
“Dua orang itu kadang sangat lama sembuhnya.“
__ADS_1
Merekapun jalan. Lumayan puas rasanya melihat begituan, walau terkadang pada malam tertentu mereka main untuk sekedar latihan di depan rumah penimbul atau dukun.