Senja Muram

Senja Muram
Basah lagi


__ADS_3

“Belum pernah lihat sawah kan? Sono masuk!” ujar mereka di hari berikutnya sembari memperlihatkan sawah yang luas dengan padi yang ada. Maklum masih di sekitar desa. Jadi padi-padi banyak yang nampak. Dan sawah demikian luas masih tersedia. Tak terkecuali dengan lokasi sekolah tersebut yang memang dulunya merupakan persawahan. Dan diuruk sedemikian rupa. Sehingga dana besar dari pusat digelontorkan untuk membangun sebuah negeri sekolah yang akan mencetak anak-anak dengan kepandaian yang mumpuni.


”Ih jorok kan?” ujar si Kleo yang selama ini tak pernah melihat sawah. Paling-paling sawah besar yang tak ada padi. Atau kalaupun ada sudah menjadi beras dan bubur. Nasi jadi bubur. Itupun di dalam mangkuk. Jadi rasa jorok, gatal dan bau aroma persawahan tak pernah dia rasa.


Mana pakaiannya kala itu masih baru dan putih bersih. Dengan logo sekolah kota yang sudah dilepas. Namun belum diganti dengan sekolah ini, karena belum sempat ke tukang jahit.


”Dijorokin saja!” ujar Scopio dan Cruz yang langsung mendorong anak perawan itu yang nampak termangu-mangu antara bersedia menuruti perintah atasan atau enggan-engganan semata. ”Biar jorok!”


Dengan sekuat tenaga yang dia punya dikerahkan agar anak tersebut benar-benar masuk ke areal persawahan yang berair keruh tersebut.


”Yah masuk dah!” jerit Kleo menjerit-jerit dengan baju yang langsung kotor. Sepatunya sampai terbenam sebagian, tapi airnya yang lumayan banyak langsung menggenanginya. Itulah kesereuan di hari itu di mata anak-anak yang tengah bersuka. Namun buat si anak baru tersebut dirasa tak ada seru-serunya.

__ADS_1


Di hari berikutnya si Kleo dibawa ke sungai yang airnya lumayan dalam. Disitu dia dijorokin lagi. Supaya menyeberang.


“Ayo sana menyeberang hingga ke seberang sungai itu. Dan mesti cepat-cepat sebelum arusnya naik. Kalau tidak nanti pintu air di ujung hulu sungai itu bakalan kita buka. Biar menyeret kau hingga ke muara ya!”


Hehe!


Dengan diiringi derai tawa gembira anak-anak yang menjelang lulus tersebut.


”Ah biasa itu!” ujar yang lain menunggu di tepian sungai . sementara satu orang yang gendut ada di seberang lainnya.


”Dalam,” ujar Kleo yang diam saja kakinya terpuruk lumpur yang tak kelihatan akibat airnya keruh, kecoklatan. Namun dirasa melesak hingga betisnya.

__ADS_1


”Ini pasir hisap!” teriaknya terus. Agar ada yang bersedia membantunya dalam menghadapi kesulitan hidup itu.


Melihat itu si gendut yang bertugas menunggu di seberang sungai langsung ikut masuk ke sungai, hendak memberi pertolongan pertama pada si cewek.


“Kenapa kau ikut masuk?” ujar temannya di seberang lainnya dengan terheran-heran sama si gendut itu.


”Ini terpuruk kasihan,” ujarnya seraya menuntun si cewek ke tepian lainnya sehingga bisa menyeberangi sungai tersebut dengan slamet.


“Tapi... Kok gua jadi basah yah?” ujar si Gendut itu setelah mengamati apa yang terjadi pada dirinya yang penuh noda itu.


Teman-temannya hanya bilang, ”eh eh maksud lo?”

__ADS_1


__ADS_2