Senja Muram

Senja Muram
Permainan aneh


__ADS_3

“Yuk ah, pulang. Sebentar lagi kita mau ujian praktek.“


“Sebentar Dong. Lagi nih.“


“Masih kurang?“


“Iya lah…“


“Oke. Apa sekarang?“


“Politik.“


“Hus…“


“Nama binatang saja.“


“Baik.“ Dipilihnya kategori pilihan yang simpel namun terkadang sulit. Sebab tak semua terlintas dalam ingatan. Padahal nama itu ada di sekitarnya. Bahkan terkadang ikut ke tubuh. Semisal kutu. Namun itu tak terpikirkan barang selintas. Akibat semakin cepatnya kata yang mesti dijawab. Jangankan yang sulit, terkadang ikut materi ujian saja tak ingat. Padahal sudah dipelajari. Namun begitulah, mesti ada tahapan ilmu yang diberikan di setiap saatnya. Membuat hal tersebut lama-lama akan dipahami. Itu terkadang seiring waktu. Sehingga saat mempelajari di waktu khusus akan kesulitan, namun kalau sudah berjalan seiring usia juga, akan terlintas dengan sendirinya. Bahkan langsung ingat, walau tak mempelajari secara khusus. Itulah ingatan. Semakin diasah, maka akan semakin tajam. Dan ada kalanya dating dengan sendirinya tanpa diminta. Namun seiring perjalanan kehidupan, sesuatu itu bakalan hilang dengan sendirinya dari ingatan di kepala.


“Apa?“ Ditanya begitu. Soalnya hanya diam saja.


“Ya sini tangannya.“


“Ini… semua.“


Di julur kan dua tangannya. Di hitung tiap jari dan ketemu…


“L“


Lalu pada menjawab. Sekenanya. Seingatnya. Itu huruf mudah, namun mesti dipikirkan. Kalau tidak akan lepas dan keduluan lawannya. Itu yang membuat kehilangan masa. Saat mau dikatakan sudah keduluan. Membuat mesti berpikir ulang. Kalau perlu mencarinya lagi. Semakin sulit, semakin membuat tersenyum. Karena baru ikut menemukannya. Sebelumnya tak teringat.


“Lebah.“


“Lawa.“


“Lalat.“ Kan semua itu hanya apa yang ada di sekelilingnya. Semacam Lamb tak terpikirkan. Karena sulit dan bahasanya yang juga asing. Atau lembu misalnya. Semua itu tengah tak terpikirkan. Mungkin akan mudah jika tengah di makan atau masih ada di rumah menunggu di santap, bakalan langsung teringat.


“Lagi….“


“M“


“M lagi?“


“Iya.“


“Monyet.“


“Moa.“

__ADS_1


“Macan.“


“Menyawak.“


“Biawak itu!“


Asal sebut saja sih. Yang penting huruf depannya itu. Namanya mirip, binatangnya juga sama. Namun penyebutan di suatu daerah dengan kata yang umum ada kalanya berbeda. Membuat kalau di unggah akan ada garis merah di bawahnya, pertanda kata itu tak masuk dalam kosa kata perbendaharaan kamus umum Bahasa yang kali ini di pakai. Jadi mesti menggunakan kata lain, atau merubah dengan menghapusnya supaya tak terjadi lagi garis merah itu. Tapi mau bagaimana lagi kalau padanan katanya taka da, maka akan dibiarkan saja meskipun tak masuk dalam kamus umum.


“U.“


“Ular lah.“


“Ulat dong.“


“Ugopogo. “


“Ogopogo itu. Hantu…“


“T


“Ini baru Trenggiling.“


“Tenyu.“


“Penyu itu!“


“Hus… kepanjangan…“


“Terakota, tengkorak.“


“Apa sih nakut-nakutin.“ Mana tempat sepi. Kalau keluar beneran, bakalan membuat ngeri kan.


“Z“


“Banyak amat?“


“Ini…“ Di tunjukkan dua tangan. Dua kaki. Yang kiri dan kanan.


“Ya nggak habis.“


“Pakai kaki tuh. Hitung!“


“Wah….“


“Zorro.“


“Bahasa apa itu…“

__ADS_1


“Zebra.“


“Jangan banyak – banyak.“


“Ya udah.“


“D“


“Ini.. “


“Apa…“


“Sulit lah.“


“Katanya dikit.“


“Makanya. “


“D itu… Drakula.“


“gigit cengel mu itu.“


“Ya apa… aduh sulit ini.“


“D itu kuda.“


“K itu.“


“Ya sudah dendeng duri landak.“


“Apa sih.“


“Delta.“


“Lo…“


“Nama binatang.“


“Itu jenis. “


“Dagadu itu!“


“Nyah… D.. “


“Dah ah… nyari teman ramai. Sendiri kurang asik.“


“Ya udah pulang.“

__ADS_1


__ADS_2