
Mereka segera bersiap dengan membawa bekal seadanya dan peralatan detektif yang lengkap. Nanti apa-apa bakalan diselidiki, sampai sedetail mungkin. Sehingga tak akan melalaikan satu hal yang remeh namun akan sangat menentukan demi mendapatkan satu titik temu yang berikutnya merangkai kejadian sesungguhnya.
Kali ini mereka bakalan berpetualang dengan berbagai keseruan yang akan tercipta. Tidak perduli, kalau hal demikian sangat berbahaya. Terutama bagi anak-anak seperti mereka. Tapi rasa ingin tahu yang besar membuat segala kesulitan akan diatasi. Termasuk usaha membantu sahabat yang sangat memerlukannya. Kalaupun tak bisa menyingkap kabut misteri itu, setidaknya mampu sedikit membantu agar dia dalam menatap masa depan juga semakin bijaksana.
Mereka berangkat dengan naik motor merah yang harganya 36 itu. Adanya memang cuma itu. Mau membawa mobil sedang dipakai sama yang punya. Bokap Nya. Juga belum tentu nyaman untuk sampai ke desa misterius yang sebagian besar nama berikut kisahnya berdasarkan dongeng. Bisa jadi mobil mewah itu nanti hanya bisa separuh jalan. Tak bisa masuk menelusup hingga pada titik-titik yang mendekati kenyataan kisah. Kalau dengan roda dua meskipun melewati jalan jelek, hingga badan juga sakit-sakit bagaikan kena encok, tapi bisa melalui jalanan yang sulit.
Mereka asik berduaan, sembari melihat-lihat keindahan alam di sepanjang jalan yang tersaji. Sepanjang jalan itu, suasana alami memang terus menghiasi kanan kiri jalan. Apalagi bagi mereka yang tak pernah melewatinya. Menjadi pemandangan memukau yang demikian indah untuk menjadi cerita buat pengalaman baru mereka.
“Sampai desa nih.“
Begitulah. Sangat cepat perjalanan itu. Jangankan cuma jarak segitu, dari ibu kota hingga desa tersebut, hanya untuk satu keperluan juga akan diladeni. Semua akan sampai kalau ada niatan demi menjalaninya. Jarak bukanlah halangan. Niatan yang mantap akan sanggup menuntaskannya. Setidaknya itu sebagai awal terselesaikannya suatu rencana.
__ADS_1
“Dekat lagi sampai rumahnya,“ ujar Antony yang kala itu jalan pelan-pelan sembari melihat indahnya panorama alam menuju desa tersebut. Sangat sayang kalau dilewatkan. Juga sebagai penghafal lokasi, siapa tahu memang ada hal yang mendekati buat menuntaskan kasus.
“Indah ya?“
“Iya....“
Tak se mengerikan namanya, Desa Kedung Bajul. Bahkan populer sebagai desa para algojo yang suka memenggal kepala para tertuduh. Sebab dari situ banyak orang yang menjadi algojo di masa lalu hanya untuk pengabdian pada pemerintah kedaton.
“Seindah wajahmu dong,“ ujar Antony menimpali.
“Ah... Gemes aku!“ kala Claudia tersipu malu mendengar celoteh si Antony yang suka main –main begitu. Makanya tangannya mencubit dengan keras pinggang si Antony.
__ADS_1
“Et... Hampir saja kepeleset ke gawir. Untung... untung aku sempat mengendalikan setang ini agar tak terjerumus,“ ujar Antony memperbaiki diri saat pinggangnya menggeliat di pelintir dengan kuat sama pacar tercintanya itu.
“Kau gitu sih!“ ujar Claudia tak mau disalahkan.
“Hehe... Nggak papa kan jadi kita bisa senggolan,“ kata Antony senang, saat mengerem mendadak tadi membuat si Claudia terdorong ke depan. Menabrak punggung Antony.
“Ih... Ngeledek aja.“
“Eh Eh... Jatuh...“
“Masa Bodoh !“
__ADS_1
Tak tahu kelanjutannya dah, Si Claudia bertambah jengkel. Dia kembali mencubit dengan keras pinggang Si Antony yang tengah memegang setang motornya. Tak tahu akhirnya. Mau nyungsep ke gawir atau nyungsruk ke semak- semak, sampai jalannya sengkleh, tak ada yang peduli.